Hai!!! ^^
Sorry, I've never been here for a long time.
I've been made a few fanfiction but I posted it on my wordpress.
If you want to read it click the link www.sherlyirawati99.wordpress.com ^^
I hope you all like it and I still in progress for the new fanfic, so stay tune on my wordpress and become the best reader in my wp. Gomawo !!^^
KoreanCulture
Sunday, 18 September 2016
Sunday, 7 June 2015
[Fanfiction] Everything Won't Be Perfect
I'm so sorry, I don't post anything about almost half of this year T^T
I'm so busy of school... Bcs that it's hard to continue my fanfiction and I finished it almost 4 month I think..
I hope you would read this absurd fanfiction. Once again thankyou ^^
Author :
Sherly Irawati(hikarisawadafanfiction.wordpress.com)
Cover by :
Sherly Irawati
Cast :
Sehun
Lee Haneul
Genre : Romance & Angst
Length: One-Shoot
Rating : PG-15
Summary :

~~~
Anak kecil ini tak sanggup melihat apa yang ayahnya lakukan. Hal yang sangat bodoh. Membunuh seorang lelaki yang umurnya mungkin sama dengan ayahnya.
“Appaaaaaa….” Anak kecil ini hanya bisa menangis.
“Diam kau! Aku melakukan ini demi menghidupimu mengerti!!” Bentak ayahnya.
“Haneull benci appaaaaa..hikss…Haneul tak pernah berharap appa menghidupi Haneul seperti ini…” Anak ini terus menangis. Ibunya yang sudah tenang di surga sana membuatnya tambah menangis.
Saat bunyi sirene berbunyi, Haneul merasa Tuhan mengabulkan doanya. Haneul berlari menuju gerombolan polisi, takut jika ayahnya akan membunuhnya juga.
“Ahju..siii..appaaa…memmbbuunnuuhh…sesee..oorraanngg…” Haneul melaporkan ayahnya sendiri. Polisi itu pun tersenyum.
“Berhentilah menangis. Apa yang membuatmu melaporkan ayahmu sendiri?” Polisi itu bertanya sembari menunggu kabar dari temannya yang akan membawa ayah dari anak ini.
“Appaaa…jahaatt..appaa bukaannn yaanngg duluu… “
“Lalu siapa namamu?”
“Haneul. Lee Haneul.”
“Baiklah Haneul berhentilah menangis… Kau akan menemui ayahmu di pengadilan setelah itu aku rasa aku akan merawatmu.”
“Tak perluu ahjussi.. Biarkan Haneul mati saja.. Haneul sudah tidak punya siapa-siapa… Eommaa sudah meninggal..”
“Kau masih punya masa depan Haneul. Aku tak mau masa depanmu rusak begitu saja karena ayahmu.. Buat ibumu bangga diatas sana Haneul-ah..”
“Gamshamida ahjussi…” Setidaknya perkataan polisi itu bisa memberhentikan tangis Haneul.
3 days later.
Haneul bersama polisi yang bermarga sama dengannya datang kepengadilan. Disana terdapat seorang wanita paruh baya bersama anak laki-lakinya yang berumur sama dengan Haneul. Haneul bisa melihat bahwa anak laki-laki itu memperhatikannya sedari tadi dengan tatapan membunuh.
Persidangan itu berjalan dengan lancar sampai akhirnya hakim memutuskan bahwa ayah Haneul di hukum seumur hidup. Haneul berteriak dan berlari kearah ayahnya. Saat ia akan memeluk ayahnya, naas lah nasib Haneul. Ayahnya mendorong anak itu dan berteriak.
“AKU TAKKKK PUUUNNNYYAAA ANAKK SEEPEERTTII KAUU!!!! PERGGGIII LAHHHH KAUUU AAAAAA!!!!” Saat itu juga para petugas langsung membawa ayah dari Haneul ke dalam sel atau biasanya disebut penjara.
Anak laki-laki itu Nampak terkejut melihat pria itu mendorong anak perempuan itu. Rasa iba itu sedikit muncul, tapi sayang kebencian yang menyelimuti hatinya. Haneul yang berumur 5 tahun itu hanya bisa menangis. Ayah angkatnya pun mendatanginya dan membawanya pulang. Anak ini manis tapi sayang kehidupannya tidak semanis wajahnya.
----
12 years later.
Haneul sudah menginjak bangku SMA dan sebentar lagi ia akan naik ke jenjang perkuliahan. Ia belajar tentang hukum. Masa lalunya membuat ia ingin mempelajari dunia hukum. Ini lah mimpinya. Masa pahitnya sedikit terhapuskan ketika Tn. Lee menjadikan dirinya sebagai anak dan memberikannya fasilitas seperti menyekolahkannya. Ia sangat berhutang budi sungguh dan ia juga berhutang nyawa pada anggota keluarga yang salah satu anggotanya dibunuh oleh ayahnya. Lagi sebentar ia akan masuk ke bangku perkuliahan. Ia harap ia bisa mengejar mimpi terbesarnya. Seorang temannya yang akan masuk ke bidang hukum juga. Ia adalah Park Hana. Haneul bahagia karena Hana benar-benar menganggapnya teman. Dan hanya Hana yang tahu rahasia Haneul. Entah mengapa Haneul mempercayai Hana. Setelah kejadiannya di masa lalu, ia sulit untuk mempercayai orang lain. Hana tahu bahwa Haneul tidak bersalah secara hukum, hanya saja ia merupakan anak dari seorang pembunuh maka dari itu ia tetap akan disalahkan. Tapi Hana mengerti. Ia mengerti bahwa temannya ini membutuhkan seorang teman dan membutuhkan seseorang untuk menjadi pangkuan hidupnya jika suatu saat ia tiba-tiba akan jatuh. Karena lama-lama temannya pasti akan tahu siapa Haneul sebenarnya. Hana juga berfikir bahwa Haneul anak yang manis dan perhatian kepada teman-temannya.
Saat menginjak bangku perkuliahan nanti Haneul akan tinggal sendiri dan menyewa apartemen. Selama ini ia bekerja untuk membiayai hidupnya nanti. Dan saat ia kuliahlah saatnya. Ia belajar untuk mengejar beasiswa di universitas yang akan menjadi tempat ia mengejar mimpinya nanti. Dan setelah ia bisa mengejar mimpinya, ia akan mengganti seluruh biaya yang pernah Tn. Lee keluarkan untuknya. Ia tidak mau anak kandung dari Tn. Lee membencinya karena ayahnya mengeluarkan biaya untuk anak yang bukan dari darah ayahnya sendiri, Tn. Lee.
Beberapa bulan ia sudah menjalani masa-masa terakhirnya di SMA dan libur kelulusannya pun sudah didepan mata. Inilah saatnya ia akan meninggalkan keluarga yang sangat berarti buatnya. Ny. Lee yang memberikannya perhatian. Tn. Lee yang membiayai hidupnya. Dan anak laki-lakinya Lee Jonghyun yang selalu memberikannya semangat.
“Appa, Eomma..”
“Ne? Waeyo Haneul?” Tanya Ny. Lee.
“Terimakasih sudah merawatku sampai sebesar ini….”
“Ada apa dengan kau Haneul?” Saat ini Tn. Lee angkat bicara.
“Aku akan tinggal sendiri mulai saat ini. Aku akan hidup dengan diriku sebenarnya…”
“Wae? Apa kau tidak suka dengan keluarga ini Haneul?” Tanya Ny. Lee.
“Bukan seperti itu eomma… Aku sangat-sangat bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Tapi aku sudah dewasa. Dan selama ini aku merasa berhutang budi pada kalian. Kalian membiayai sekolahku, merawatku dan membiayai segala kebutuhanku. Aku berjanji akan mengganti uang kalian dan aku akan berjanji aku akan menjadi seorang pengacara yang sukses.”
“Kau tak perlu mengganti seluruh biaya yang pernah aku keluarkan. Aku membiarkanmu hidup seperti yang kau mau. Aku tahu kau sudah bisa menjalani hidupmu. Aku tak mau memaksamu untuk terus hidup bersama kami. Aku akan membayar apartemenmu selama 2 tahun. Kalau kau tidak mau maka kau harus tinggal bersama kami lagi.” Ujar Tn. Lee yang dibalas anggukan oleh Ny. Lee.
“Tapii… Baiklah.. Gamshamida appa.. eommaa.. Neo saranghae.. Terimakasih sudah merawatku dan terimakasih untuk segalanya. Aku akan terus menghubungi kalian atau mengunjungi kalian…” Haneul mengucapkan kata-katanya dengan air mata. Ia sedih akan meninggalkan keluarga ini tapi ia juga bahagia tidak akan membebani Tn dan Ny. Lee lagi.
“Aku akan menunggu janjimu. Menjadi seorang pengacara. Saat kau wisuda, kami akan datang untukmu. Ingat jangan lupa pada kami.”
“Tentu saja. Haneul selalu mengingat kalian.. Eomma, appaa Haneul rasa Haneul harus pergi sebelum Jonghyun datang. Sampaikan salam Haneul padanya. Saranghae. Anyeong..”
-------
Beberapa bulan ia menjalani kehidupannya tanpa Tn dan Ny. Lee dan beberapa bulan pula ia menginjak jenjang sekolah tinggi. Selama ini ia menjalaninya biasa-biasa saja. Tapi inilah kisah baru yang akan Haneul temukan. Selama ini Haneul yang Hana kenal tak pernah namanya jatuh cinta pada seseorang malah mencintai seseorang yang terkenal dingin dan tak bersahabat. Tetapi Hana tetap mendukung pilihan Haneul. Hanya saja Haneul tahu ia tak pantas bersanding dengan pria itu. Anak dari seorang pembunuh tak akan pantas memiliki pria yang tampan dan mapan sepertinya. Pria itu adalah Oh Sehun. Pria yang terkenal dengan sifatnya yang dingin dan ditakuti oleh para wanita, tetapi juga mencintainya.
Sebuah kejadian yang tak diharapkan oleh Haneul terjadi. Ia menabrak pria itu. Seketika ia mengambil barang-barangnya yang jatuh dan membungkuk 90 derajat sambil mengatakan maaf. Pria itu seperti menatapnya.
“Haneul. Lee Haneul.”
“Ne?”
“Nama yang cantik.”
“Eee?” Haneul bengong dengan perkataan pria ini. Ia berusaha mencerna kata-kata itu. Saat Haneul masih bingung dengan apa yang terjadi. Pria itu mengambil ponsel Haneul dari tangan wanita itu dan menuliskan nomornya, lalu memberikan panggilan ke nomornya itu. Saat sudah selesai, pria itu mengembalikan ponsel Haneul ke tangan pemiliknya.
“Nomor yang tadi itu milikku. Oh Sehun.”
“YA! Apa yang kau lakukan dengan ponselku eoh?!”
“Anyeongg..” Sehun berlalu begitu saja tanpa mempedulikan pertanyaan bodoh yang di lontarkan oleh Haneul.
Sungguh. Haneul tak menyangka bahwa seorang Oh Sehun akan melakukan hal seperti tadi. Benar-benar gila.
“YAA!! NAPPEEUUNN NAMJAA!!”
Sehun yang mendegar perkataan Haneul hanya menoleh dan tersenyum sinis lalu meninggalkannya. Hana yang baru saja datang langsung meng-introgasi Haneul.
“Apa sudah ada perkembangan Haneul-ah?” Dengan mata berbinar-binarnya.
“YA!! Pria itu sudah gila.”
“Wae? Walaupun begitu tapi kau tetap suka kan?”
Haneul tidak mengubris pertanyaan Hana. Ia berjalan menuju kelasnya yang disusul oleh Hana. Saat ia berjalan, ia merasakan ponselnya bergetar. Ia melihat nama appa disana.
“Ne appa? Waeyo?”
“…” Serasa petir-petir menyambar hatinya. Hancur. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.
“…”
“Ah ne.. Aku akaann segera kesana..”
Kaku. Seluruh badannya kaku serasa tak bisa bergerak.
“Ya! Haneul-ah? Neo gwenchana?”
“Nan angwenchana.. Bilang ke dosen hari ini aku tak bisa mengikuti pelajaran. Ada sesuatu yang harus aku utamakan. Anyeong..” Hana hanya menjawab dengan anggukan. Dan Haneul sudah berlari menuju luar sekolah.
------
“APPAAAAAA…” Haneul menangis melihat apa yang ada dihadapannya. Sedangkan Tn. Lee memegang tubuh Haneul agar ia tidak jatuh tiba-tiba.
“Aku bahkann tak pernahhh bertemu denganmu…me..nggaa..ppaaa kauu tiiinnnggaalllkkaannn akkkuu…” Dan kini mayat pria yang merupakan ayah kandung Haneul pun sudah tertutup dengan tanah. Ia memeluk Tn. Lee yang kini statusnya menjadi ayah angkat dari Haneul.
“Haneul-ah, sudahlah.. Ayahmu sudah tenang diatas sana bersama dengan ibumu…”
“Tapii.. aku belum pernah bertemu dengannya untuk terakhir kalinya….”
“Ini sudah takdir dari appamu… dan mungkin juga hukuman sebenarnya karena ayahmu pernah membunuh seorang presdir.”
“Mungkin kau benar appa..”
“Kalau begitu biarkan aku mengantarmu pulang dan membelikanmu makanan…”
“Gamshamida appa..”
----
2 days later
Haneul berdoa disebuah gereja. Ia mendoakan agar dosa-dosa ayahnya dimaafkan. Saat perjalanan pulang ia bertemu dengan Sehun.
“Ahh sepertinya kau ada dimana-mana eoh?” Ucap Sehun sambil melihat Haneul dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Kau fikir aku mahluk halus apa.” Haneul langsung meninggalkan Sehun. Ia tak mau mencintai pria itu lebih dalam lagi. Tetapi tangannya langsung ditahan oleh Sehun.
“Ya! Jangan kabur kau. Temani aku makan siang eoh.”
“Kau fikir aku orang yang tak punya kerjaan selain menunggumu makan?”
“Sudahlah tak usah banyak bicara.” Sehun langsung menarik Haneul masuk kesebuah restoran mewah dikawasan Seoul itu.
Isi hati Haneul yang sebenarnya adalah bahagia. Ia bahagia bisa bersama Sehun tapi ia tak mau jika Sehun berteman dengan seorang anak pembunuh.
“Mengapa kau menatapku seperti itu?”
“Anni..” dengan senyumnya yang bermakna itu. “Ah ye, mengapa kau bisa terkenal sekali dikampus eoh?” Pertanyaan itu keluar dengan sendirinya dari mulut Haneul.
“Kau bisa lihat kan, wajahku tampan dan keluargaku dari keluarga berkepunyaan lebih.”
“Ah ne.. Mian..”
“Tapi satu yang membuatku tidak bahagia dengan apa yang aku punya.”
“Apa itu?”
“Appaku. Ia meninggal karena dibunuh. Kejadian itu sudah 12 tahun yang lalu.”
“Eee?” Haneul terasa ditusuk beribu-ribu pisau.
“Saat ini aku memikirkan anak dari orang yang membunuh appaku. Aku tak menyangka bahwa dia melaporkan ayahnya sendiri sampai ayahnya pun tak mau mengakuinya sebagai anak lagi. Saat aku bertemu dengan perempuan itu lagi aku ingin bertanya sesuatu padanya. Mengapa ia rela melihat ayahnya tinggal di sebuah penjara. Aku iba pada perempuan itu walaupun aku juga benci padanya. Walaupun seharusnya aku tak membenci perempuan itu karena ia tidak bersalah. Tapi bagaimanapun ia juga anak dari orang yang membunuh appaku. Mian aku jadi cerita panjang lebar seperti ini padamu.”
“Ah ye.. Gwenchana Sehun-ah.” Ucap Haneul berusaha untuk tersenyum. “Maaf… Aku benar-benar minta maaf atas kesalahan yang ayahku perbuat sehingga kau kehilangan orang yang telah berharga dihidupmu. Kau benar.. Aku anak pembunuh. Sudah sepantasnya kau membenciku. Aku akan jauh lebih bahagia jika kau tidak bersikap baik padaku lain kali.” Batin Haneul. “Semoga kau dimaafkan di alam sana appa.. Dan jika kau dilahirkan kembali jangan kau ulang kesalahanmu lagi untuk menyakiti mahluk-mahluk didunia ini.” Lanjut Haneul.
“Aku rasa ini sudah sore. Mari aku antar kau pulang.”
“Ah terima kasih tapi aku bisa pulang sendiri kok..”
“Tidak, aku tidak mungkin membiarkan seorang wanita pulang sendiri.”
“Ah tidak apa-apa, aku sudah biasa pulang sendiri.” Sehun yang mendengar tolakan dari Haneul langsung menariknya untuk masuk kedalam mobilnya.
“Dimana rumahmu?”
“Aku tinggal disebuah apartemen.”
“Dimana apartemenmu?”
“Apartemen di daerah kampus.”
“Baiklah.”
“Kau tidak perlu berbuat baik seperti ini. Semakin kau berbuat baik padaku semakin besar rasa bersalahku padamu.” Batin Haneul.
“Ah ye.. Aku lihat kau orangnya sangat tertutup sekali eoh.”
“Ah begitulah.. Aku tidak terlalu suka untuk mengumbar privasiku kepada banyak teman. Aku rasa sendiri atau berdua itu lebih baik. Seperti temanku Hana yang selalu ada disaat aku membutuhkannya sebagai peganganku.”
“Ah iya.. Orang tuamu?”
“Mereka dirumah..”
“Lalu kenapa kau ingin tinggal di apartemen?”
“Aku rasa aku perlu hidup mandiri.”
Bohong. Semua kata-kata yang keluar dari mulut Haneul semua hanyalah kebohongan.
“Maaf aku berbohong padamu Sehun. Aku tahu kau benci padaku. Tapi aku tak mau kau tahu sekarang. Kau akan tahu nanti disaat yang tepat. Aku pasti akan memberitahumu siapa aku sebenarnya.”
------
Karena hidup tak sepenuhnya indah. Hidup setiap orang pasti akan menghadapi masalah dan mereka juga membuat sebuah kebohongan. Karena itu manusia hidup seperti apa mereka dilahirkan dan ditakdirkan. Sama halnya denganku, hidup dengan seorang ayah yang sering membunuh orang dan tanpa seorang ibu disampingku, tapi aku masih beruntung. Aku mau dianggap seorang anak oleh keluarga Lee atau keluarga angkatku. Mungkin keberuntungan itu tidak akan berlangsung lama karena Oh Sehun hadir dihidupku. Dan ia akan tahu siapa aku sebenarnya. Seorang anak dari orang yang membunuh ayahnya.
Beberapa hari ini aku tidak melihat Oh Sehun. Tidak biasanya. Atau… Jangan berfikiran yang tidak-tidak Haneul. Apa aku harus mengatakannya? Tapi apa keberanianku sudah cukup untuk menghadapinya? Aku rasa tidak. Menatapnya saja aku tidak kuat apalagi untuk mengatakannya. Hari ini aku pulang sendiri. Aku berjalan sambil memikirkan hal yang terjadi di masa lalu. Mengingatnya saja membuatku takut. Seperti phobia akan kenangan masa laluku sendiri. Karena terlalu lama tenggelam pada lamunanku sendiri, aku tidak menyadari bahwa Sehun sudah berada disampingku sekarang. Entah kapan ia datang, aku sendiri tak tahu.
“Saranghae…”
Kata-kata yang membuatku cukup kaget. “Ne?” Aku memastikan ucapannya.
“Saranghae Lee Haneul.”
Diam. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. “Sehun-ah.. Kau pikirkan baik-baik ucapanmu. Aku rasa kau salah. Kita baru saja kenal mana mungkin kau mencintaiku.” Ucapku membuat Sehun yakin.
“Aku sudah yakin dengan perasaanku sendiri. Percayalah.”
Aku berusaha memikirkan semua resiko yang akan terjadi jika aku menerima cintanya seorang Sehun. “Aku juga mencintaimu Sehun. Tapi maaf aku tidak bisa menerima cintamu.”
Aku lihat Sehun sedikit heran dengan jawabanku. Tapi setelah itu Sehun tersenyum. “Aku menerima jawabanmu. Tapi aku akan membuatmu menerima cintaku.” Aku tersenyum dan menjawabnya, “Aku tak yakin. Sampai kapanpun aku rasa aku tidak bisa menerimamu.”
Sehun membalas ucapanku yang membuatku tidak bisa membalasnya lagi, “Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti. Mungkin kau bilang tidak akan menerimaku sampai kapanpun sekarang. Tapi, siapa yang tahu bahwa Tuhan akan mempersatukan kita nanti? Kita jalani saja apa yang akan terjadi.”
Sehun berjalan meninggalkanku tapi langkahnya terhenti ketika mendengar ucapanku, “Sehun-ah, apa kau akan tetap mencintai wanita itu walaupun ia sudah menghancurkan hidupmu?”
Sehun terlihat bingung dengan ucapanku, “Maksudmu?”
Aku hanya tersenyum dan berjalan meninggalkannya.
“YA!! Pertanyaanku belum kau jawab!” Sehun berteriak kepadaku. Aku hanya membalikan badan dan menunduk 90 derajat dan meninggalkannya yang bingung dengan sikap dan perkataanku.
Tidak akan kau menerimaku Sehun. Aku sudah menghancurkan kehidupanmu. Bagaimanapun juga, aku yang bertanggung jawab atas semua perlakuan ayahku kepada ayahmu. Aku juga berdoa agar ayahku dan ayahmu nanti bisa bersahabat di alam sana dan tidak melakukan hal yang sama di kehidupan mereka selanjutnya. You have a bright future Sehun. Don’t fall in love with the wrong person. The person who make your life broken.(Kau mempunyai masa depan yang cerah Sehun. Jangan jatuh cinta pada orang yang salah. Orang yang sudah membuat hidupmu hancur.)
-----
Perempuan itu. Apa maksud dari ucapannya. Mengapa rasanya kata-kata tersebut tertuju benar-benar untukku. Seketika masa lalu itu datang kembali di ingatanku. Mata itu. Mata perempuan yang menangis di hari ayahnya di adili. Atau hanya ilusiku semata? Tapi aku benar-benar mengingat mata itu. Apa Haneul perempuan itu? Apa aku mencintai orang yang kubenci? Rencana apa lagi yang kau berikan kepadaku Tuhan. Memaafkan seseorang mungkin mudah tapi tak akan bisa menghilangkan luka tersebut. Mengingat kenangan pahit itu membuatku jarang bergaul dengan teman-teman. Aku selalu berfikir bahwa semua manusia itu jahat. Tapi ialah yang mengubah segalanya. Entah kenapa, berada disamping perempuan itu membuat perasaan dendamku hilang begitu saja. Siapa dia sebenarnya? Akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya esok setelah kelas selesai.
*The Next Day*
Saat aku masuk kedalam kelas, aku melihat sosok perempuan itu. Entah kenapa hari ini ia di kerumuni oleh teman-teman sekelasnya atau satu angkatannya.
“Haneul, jujur saja sama kita. Siapa kau sebenarnya eoh? Mengapa aku melihat anak kecil yang di internet saat kejadian pembunuhan itu mirip denganmu eoh?”
“Apa susahnya kau jujur eoh?”
“Memangnya apa gunanya kau berbohong disaat semua orang sudah mengetahuinya?”
Pertanyaan itu… Sama seperti pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada Haneul.
“Kalian semua diam. Bagaimana bisa Haneul menjawab perkataan kalian semua sedangkan kalian memberikannya pertanyaan tanpa henti.” Hana membantu Haneul. “Haneul-ah, aku rasa ini waktunya untuk kau jujur. Jelaskan sejelas-jelasnya pada mereka. Jangan membuat mereka salah paham dengan ucapanmu.” Kulihat Haneul berusaha untuk mengatakan sesuatu sampai akhirnya pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. “Haneul.. Apa ayahmu yang membunuh ayahku?” Seketika semua mata tertuju padaku dan Haneul. Haneul maju kedepan kelas.
“Maafkan aku telah membuat kekacauan ini. Memang benar anak kecil itu diriku. Mungkin kalian tak menyangka atau memang sudah menyangkanya. Maaf aku selama ini menyembunyikannya. Aku berusaha untuk tidak mengingat masa laluku yang cukup pahit dan membuatku phobia. Aku bahkan nyaris dibunuh oleh ayahku sendiri. Aku sedikit menyesali masa lalu itu. Ibuku juga sudah tiada. Saat itu aku hanya memiliki seorang ayah. Tapi tak ku sangka ternyata ayahku melakukan hal bodoh seperti itu. Sampai akhirnya Tuhan membuatku melaporkan perbuatan ayahku sendiri. Saat itu aku berumur 5 tahun. Aku merasa sedikit beruntung karena kepala kepolisian di Seoul mau merawatku sampai masa SMA-ku. Tentu saja aku masih mengingat ayahku sendiri, tetapi ia sudah tenang disana. Aku bahkan tak pernah menemuinya sejak 12 tahun lalu. Karena masa laluku itulah yang membawaku ingin menjadi seorang pengacara atau hakim. Aku tahu kalian tak akan mau berteman denganku lagi. Mian. Sehun-ah, inilah alasan mengapa aku tak mau kau jatuh cinta padaku. Ayahku telah membunuh ayahmu itu memang benar. Aku merasa berhutang nyawa denganmu. Maafkan semua kesalahan ayahku, walaupun aku tahu maafku itu sangat tidak berarti dengan nyawa ayahmu. Silahkan jika kau ingin membenciku, aku siap.” Aku cukup kaget dengan penuturan Haneul. Perempuan itu menangis dengan menundukan kepalanya. Aku melihat teman-temanku semua berbicara seperti menyampaikan pendapat mereka dan Hana berusaha menenangkan Haneul. Apa yang aku dengar ini semuanya benar?
“Haneul.. Kami tidak marah padamu. Kau mau jujur dengan kami. Padahal yang kau lakukan itu cukup benar, tetapi mengapa kau tidak mau menceritakannya pada kami agar kami tidak salah paham padamu?”
“Karena mau bagaimanapun aku anak dari seorang pembunuh.”
“Tenang saja kami akan tetap berteman denganmu, kecuali….” Semua mata melihatku. Mata itu juga melihatku. Aku benar-benar tak menyangka. Aku mengambil ransel dan kunci mobilku. Segera aku pergi dari kelas itu dan berencana untuk tidak mengikuti pelajaran. Aku masih tak menyangka bahwa Haneul merupakan perempuan itu. Apa yang aku harus lanjutkan sekarang? Berusaha untuk membuang jauh-jauh perasaan ini? Aku rasa tidak mungkin. Perasaan ini sulit untuk dihilangkan. Aku sudah terlanjur nyaman bersamanya. Mungkin saat ini emosiku sudah tak bisa dikendalikan lagi. Aku lihat ia berlari keluar kelas. Aku mengejarnya dan menahannya. Emosi ini sudah menjalar keseluruh tubuhku.
“YA! KAU PIKIR AKU APA SELAMA INI KAU BOHONGI EOH?! TERUTAMA SOAL NYAWA AYAHKU! KENAPA KAU TAK PERNAH MENCERITAKANNYA PADAKU!!!!!!!!!!!! AKU TAHU KAU HANYA SEORANG ANAK PEMBUNUH YANG SUKA BERBOHONG!!!!!!!!!! DASAR WANITA LICIK! KAU SAMA SAJA DENGAN AYAHMU! ANAK SEORANG PEMBUNUH TETAPLAH ANAK SEORANG PEMBUNUH!”
-----
“YA! KAU PIKIR AKU APA SELAMA INI KAU BOHONGI EOH?! TERUTAMA SOAL NYAWA AYAHKU! KENAPA KAU TAK PERNAH MENCERITAKANNYA PADAKU!!!!!!!!!!!! AKU TAHU KAU HANYA SEORANG ANAK PEMBUNUH YANG SUKA BERBOHONG!!!!!!!!!! DASAR WANITA LICIK! KAU SAMA SAJA DENGAN AYAHMU! ANAK SEORANG PEMBUNUH TETAPLAH ANAK SEORANG PEMBUNUH!”
Haneul terlihat shock dan kaget dengan bentakan Sehun. Semua mata tertuju padanya, kecuali anak-anak dari jurusan hukum yang sudah tau kehidupan Haneul sebenarnya.
“Aku memang anak seorang pembunuh. Lalu maumu apa?! Kalau kau berpikir bahwa aku ingin hartamu silahkan! Asalkan itu buat kau bahagia. APAAA AKUU HARUUSS MATII JUGAA AGAR NYAWA AYAHMU BISA TERBAYARKAN HAH???!!!!!! JAWAAABBBB AKUU SEHUNNN!!!!”
Sehun yang juga tidak kalah kagetnya hanya bisa diam. Setelah itu Haneul mengambil langkah cepat atau bisa dibilang berlari. Ingin menyembunyikan rasa malunya setelah dipermalukan oleh Sehun. Hana sahabat Haneul yang melihat kejadian tadi menyusul Haneul. Sebelumnya ia berkata sesuatu kepada Sehun.
“Jernihkan dan control emosimu! Emosimu hanya bisa menyakiti Haneul! Dasar pria pengecut!”
Hana kemudian berlari ingin mengejar langkah Haneul. Ia melihat Haneul sudah mendekati jalan raya. Haneul tak peduli dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Ia tetap berlari sampai ia tidak menyadari bahwa sebuah mobil menuju kearahnya.
“Haneul awaass!!!!!!” Hana berteriak. Tapi telat sudah. Mobil tersebut sudah dekat dengan Haneul.
“AAAAAA…” Haneul terjatuh dengan darah yang berceceran dijalan. Hana berlari kearah Haneul.
“Haneul-ah!! Palli ireonaaa!!!” Hana menangis melihat sahabatnya yang malang ini. Ia meminta tolong kepada teman-temannya yang akan pulang. Untung saja temannya berbaik hati mengijinkan Hana membawa Haneul kerumah sakit dengan kendaraannya. Setelah 15 menit perjalanan dengan kecepatan tinggi, mereka sampai dirumah sakit. Haneul langsung dilarikan ke ruang operasi. Keadaan Haneul sangat kritis. Hana meraih ponselnya. Ia menelpon seseorang. Lee ahjussi. Ayah angkat dari Haneul. Selang waktu Hana menelpon ayah dari Haneul. Tn. Lee datang bersama dengan Ny. Lee. Tampak raut wajah panic dan takut tampak pada wajah Ny. Lee. Tn. Lee berusaha menenangkan istrinya. Haneul sangat disayang oleh kedua orang tua angkatnya. Hana menelpon seseorang lagi, tetapi ia menelpon di tempat yang jauh dari Tn. & Ny. Lee.
“YA! OH SEHUN!!”
Seseorang yang ditelpon oleh Hana adalah Sehun. Awal dari kejadian ini terjadi.
“Lihat lah akibat dari kecerobohanmu! Haneul sedang menjalani masa kritisnya saat ini!”
Saat itu pula Tn. Lee muncul dihadapan Hana.
“Hana.” Hana yang kaget atas kehadiran Tn. Lee pun tak dapat berkata-kata lagi.
“Ne ahjussi.”
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku mendengar kau menuduh seseorang. Ada apa? Aku ingin kau jujur padaku. Aku tahu kau sahabat Haneul, kau pasti tahu segalanya tentang kejadian ini.”
“Eee… Se – sebenernya – “
“Cepat katakan Hana.”
“Tadi disekolah teman-teman satu jurusan kami sudah tahu seorang Haneul sebenarnya. Lalu… Sehun. Anak dari ayah yang dibunuh oleh ayah kandung Haneul mengetahuinya. Saat Haneul berjalan keluar dan sudah berada dikoridor. Sehun menahannya dan membentaknya dengan mengatakannya anak dari seorang pembunuh. Jadi orang-orang sudah mengetahui siapa Haneul sebenarnya. Mungkin karena Haneul merasa sakit hati, maka ia berlari tanpa memperhatikan jalan. Aku sudah berusaha mengejar Haneul. Tapi sudah terlambat..”
“Aku sudah menduga. Aku ingin kau melarang Sehun untuk berhubungan lagi dengan Haneul. Aku takut phobianya akan kumat kembali. Dulu saat umur 7 tahun ia sering sekali merasa despresi karena terus kebayang dengan masa lalunya. Aku berusaha membuat phobianya hilang. Akhirnya keajaiban datang dan pada umur 8 tahun phobianya tak ada lagi. Aku takut ini akan terulang lagi.”
“Aku bahkan tak menyangka bahwa masa kecilnya mengenaskan.”
“Kalau begitu kau pulang saja. Nanti aku akan mengabarimu keadaan Haneul.”
“Ne ahjussi.. Aku akan kembali.” Hana membungkukan badannya dan pergi meninggalkan Tn. Lee. Tn. Lee kembali kedepan ruang operasi.
Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Haneul keluar.
“Bagaimana keadaan anak saya, uissa-nim?” Dokter itu hanya menghempaskan nafasnya.
“Ia baik-baik saja kan?” Tanya Ny. Lee.
“Maaf Tn, Ny. Keadaan Haneul sangat parah. Mobil itu melaju sangat tinggi sehingga benturan yang mengenai otak dan beberapa tubuhnya cukup keras. Terutama dibagian otaknya. Kemungkinan ia untuk hidup cukup kecil. Berdoa saja untuk kesembuhannya. Kami akan memindahkannya keruang perawatan intensif. Kami permisi dulu.”
Perkataan dokter itu cukup membuat tangis Ny. Lee pecah. Walaupun Ny. Lee bukan ibu kandung dari Haneul, tapi ia sangat menyayangi Haneul. Dulu, apa yang Haneul ingin selalu dikabulkan oleh Ny. Lee. Saat dirumah, Haneul lah yang membuat suasana menjadi hangat. Tapi apakah suasana itu akan lenyap? Apakah Haneul akan pergi? Apakah Haneul yang harus membayar dosa-dosa ayahnya? Iya, sepertinya itu yang akan terjadi.
Sudah 1 minggu Haneul dirawat, tetapi ia belum sadar juga sampai sekarang. Sampai saat itu juga Sehun ingin menemui Haneul tetapi dilarang oleh Tn. Lee.
“Kau belum cukup dewasa untuk mengontrol emosimu nak.”
“Maaf ahjussi tapi berikan aku kesempatan untuk berbicara dengan Haneul.”
“Saat ini aku takut ia akan pergi dan aku takut jika ia sadar ia akan hilang ingatan. Saat ini juga aku ingin menjaganya dari seseorang yang tak bertanggung jawab.”
“Ahjussi aku cukup dewasa untuk mengerti arti cinta. Saat ini aku ingin berada disampingnya, menjadi seseorang yang bertanggung jawab. Seseorang yang akan berusaha untuk menghapus dendam yang ada selama ini.”
“Tapi tetap. Keputusanku sudah bulat. Jauhkan Haneul. Biarkan ia bahagia dengan jalannya sendiri.”
“Tetapi bagaimana jika ia bahagia bersamaku?”
“Aku tak tahu.. Tapi pulanglah.. Walaupun kau bilang ibumu dan kau sudah memaafkannya tapi aku tetap tidak bisa.”
“Untuk mendapatkan orang yang kita cintai butuh perjuangan yang keras tentunya. Disitu pula aku akan berjuang untuk mendapatkan cinta Haneul.”
“Oh Sehun pulanglah! Jangan ganggu sahabatku lagi. Sudah cukup kau menyakitinya. Sudah cukup banyak sakit yang dia rasakan. Hiduplah dengan bahagia tanpa Haneul.” Ucap Hana yang mendengar setiap perkataan dari Oh Sehun dan Tn. Lee.
“Hana! Apa yang kau lakukan jika kau melihat Lu Han didalam sana dalam keadaan kritis, sedangkan kau tak diberikan ijin untuk menemuinya lagi. Apa yang kau lakukan? Eoh? APAAAAA!!!” Sehun mengacak rambutnya. Matanya sudah memerah saat ini. Keadaannya sangat kacau.
“Haneul mencintaimu sejak kau tidak mengenalnya. Ia menyimpan perasaannya sampai saat ini. Ia bertahan sampai saat ini dengan statusnya yang sangat kau benci. Tapi apa yang kau lakukan padanya?”
“AAARRRRRGGGHHH!” Sehun menutup matanya. Air matanya turun. Ini pertama kalinya Hana melihat Sehun menangis.
Tapi…..
Sebuah teriakan terdengar dari arah ruang perawatan Haneul.
“HANEEEUULLL!!!!! JANGGAANN TINGGALKAN EOMMAAAAA!!”
Sehun, Hana dan Tn. Lee yang mendengar teriakan tersebut langsung masuk kedalam ruangan tersebut dan Hana hanya melihat garis lurus pada detak jantung Haneul.
“Apa artinya Haneul akan pergi?” Hana menangis hingga air matanya membasahi wajah Haneul.
--------
Aku merasa asing dengan tempat ini. Padang yang penuh dengan bunga-bunga. Aku melihat tubuhku seperti sebuah bayangan. Aku mendengar eomma meneriakiku. Tapi darimana asal suara itu. Aku tak melihat seseorang disana. Aku berpakaian putih dan aku sendiri tak bisa menyentuh diriku sendiri. Apa saat ini aku hanya bersama jiwaku. Sedangkan tubuhku tergeletak dirumah sakit. Apa aku sudah mati? Saat aku menemukan sosok eomma. Aku mencoba meraihnya. Tetapi angin-angin ini mendorongku semakin jauh, mendekati gerbang kebahagian.
“Apa kau akan meninggalkanku begitu saja!!! Ini aku Haneul. Aku Sehun!! Sadarlah aku mohon!!”
Serasa angin itu berhenti meniupku lebih jauh. Aku berhenti dan merasakan jiwaku akan kembali kedalam tubuhku.
Jiwaku kembali. Aku pasti bisa bertahan hidup. Aku percaya.
------
“Maafkan aku Haneul. Aku berjanji untuk lebih dewasa dan bisa mengontrol emosiku. Aku harap kau sadar. Aku harap kau memaafkanku dan aku ingin kau menjadi pendamping hidupku. Sadarlah Haneul. Aku mohonnn..”
Tn. Lee hanya ingin melihat kebenaran Sehun. Perasaan tanpa emosinya. Inilah yang ingin Tn. Lee lihat. Hana juga sedikit tersenyum melihat kesungguhan Sehun.
Saat itu juga mata dan jari manis Haneul mulai bergerak.
“Se – Sehun..” Sehun menghapus air matanya dan tersenyum. Semua orang yang berada diruangan itu tersenyum.
“Aku disini. Maafkan aku Haneul.”
“Aku tak marah padamu tapi aku marah pada diriku sendiri.”
“Aku juga meminta maaf, karena aku kau seperti ini. Aku sadar dengan perasaanku saat ini. Saranghae..”
“Apa itu benar?”
“Tentu saja…” Sehun mengecup bibir Haneul sekilas.
“YA! Bisakah kalian tidak melakukan hal itu didepan banyak orang?” Ucap Hana dengan bibir manyunp-nya. Haneul dan Sehun hanya bisa tersenyum.
“Hana.. Terimakasih kau mau menjadi temanku. Mau menjadi tempat aku berbagi cerita dan menjadi pelindungku disaat orang-orang ingin menyakitiku. Eomma.. Appa.. Terimakasih kalian mau merawatku dan menyayangiku.”
“Tentu saja. Aku kan teman terbaikmu Haneul.” Ucap Hana.
“Eomma sama appa juga sayang padamu Haneul. Jika kau sudah diperbolehkan pulang. Kau tinggal dirumah lagi ne? Eomma tidak ingin mendengar penolakan darimu.”
“Baiklah eomma..”
“Tenang saja eommoni.. Tak lama lagi Haneul akan menjadi istriku.”
Ruangan yang awalnya berisi tangisan menjadi sebuah tawa yang sangat berarti.
-----
Sudah 1 minggu setelah Haneul sadar dan ia diperbolehkan untuk pulang. Saat ini, ia duduk di halaman belakang rumah keluarga Lee. Duduk di atas rerumputan sambil menulis sesuatu pada buku hariannya.
Sehun melingkarkan tangannya dan mencium bibir manis Haneul.
I'm so busy of school... Bcs that it's hard to continue my fanfiction and I finished it almost 4 month I think..
I hope you would read this absurd fanfiction. Once again thankyou ^^
Everything Won’t Be Perfect
(Behind the Lies)
Disclaimer : FF ini murni dari otak author. Jika terjadi kesalahan penulisan dll mohon di maklumi._.Author :
Sherly Irawati(hikarisawadafanfiction.wordpress.com)
Cover by :
Sherly Irawati
Cast :
Sehun
Lee Haneul
Genre : Romance & Angst
Length: One-Shoot
Rating : PG-15
Summary :
“Seperti apa benih yang ditanam itulah hasil yang akan ia dapat. Kehidupan dan segala yang ada didunia ini tidak akan pernah sempurna. Kejujuran kunci utama kau bisa mengubah hidupmu.”Song :
- Fiona Fung – Forever Friends
- Fiona Fung – Proud of You
Happy Reading!!!
~~~
Anak kecil ini tak sanggup melihat apa yang ayahnya lakukan. Hal yang sangat bodoh. Membunuh seorang lelaki yang umurnya mungkin sama dengan ayahnya.
“Appaaaaaa….” Anak kecil ini hanya bisa menangis.
“Diam kau! Aku melakukan ini demi menghidupimu mengerti!!” Bentak ayahnya.
“Haneull benci appaaaaa..hikss…Haneul tak pernah berharap appa menghidupi Haneul seperti ini…” Anak ini terus menangis. Ibunya yang sudah tenang di surga sana membuatnya tambah menangis.
Saat bunyi sirene berbunyi, Haneul merasa Tuhan mengabulkan doanya. Haneul berlari menuju gerombolan polisi, takut jika ayahnya akan membunuhnya juga.
“Ahju..siii..appaaa…memmbbuunnuuhh…sesee..oorraanngg…” Haneul melaporkan ayahnya sendiri. Polisi itu pun tersenyum.
“Berhentilah menangis. Apa yang membuatmu melaporkan ayahmu sendiri?” Polisi itu bertanya sembari menunggu kabar dari temannya yang akan membawa ayah dari anak ini.
“Appaaa…jahaatt..appaa bukaannn yaanngg duluu… “
“Lalu siapa namamu?”
“Haneul. Lee Haneul.”
“Baiklah Haneul berhentilah menangis… Kau akan menemui ayahmu di pengadilan setelah itu aku rasa aku akan merawatmu.”
“Tak perluu ahjussi.. Biarkan Haneul mati saja.. Haneul sudah tidak punya siapa-siapa… Eommaa sudah meninggal..”
“Kau masih punya masa depan Haneul. Aku tak mau masa depanmu rusak begitu saja karena ayahmu.. Buat ibumu bangga diatas sana Haneul-ah..”
“Gamshamida ahjussi…” Setidaknya perkataan polisi itu bisa memberhentikan tangis Haneul.
3 days later.
Haneul bersama polisi yang bermarga sama dengannya datang kepengadilan. Disana terdapat seorang wanita paruh baya bersama anak laki-lakinya yang berumur sama dengan Haneul. Haneul bisa melihat bahwa anak laki-laki itu memperhatikannya sedari tadi dengan tatapan membunuh.
Persidangan itu berjalan dengan lancar sampai akhirnya hakim memutuskan bahwa ayah Haneul di hukum seumur hidup. Haneul berteriak dan berlari kearah ayahnya. Saat ia akan memeluk ayahnya, naas lah nasib Haneul. Ayahnya mendorong anak itu dan berteriak.
“AKU TAKKKK PUUUNNNYYAAA ANAKK SEEPEERTTII KAUU!!!! PERGGGIII LAHHHH KAUUU AAAAAA!!!!” Saat itu juga para petugas langsung membawa ayah dari Haneul ke dalam sel atau biasanya disebut penjara.
Anak laki-laki itu Nampak terkejut melihat pria itu mendorong anak perempuan itu. Rasa iba itu sedikit muncul, tapi sayang kebencian yang menyelimuti hatinya. Haneul yang berumur 5 tahun itu hanya bisa menangis. Ayah angkatnya pun mendatanginya dan membawanya pulang. Anak ini manis tapi sayang kehidupannya tidak semanis wajahnya.
----
12 years later.
Haneul sudah menginjak bangku SMA dan sebentar lagi ia akan naik ke jenjang perkuliahan. Ia belajar tentang hukum. Masa lalunya membuat ia ingin mempelajari dunia hukum. Ini lah mimpinya. Masa pahitnya sedikit terhapuskan ketika Tn. Lee menjadikan dirinya sebagai anak dan memberikannya fasilitas seperti menyekolahkannya. Ia sangat berhutang budi sungguh dan ia juga berhutang nyawa pada anggota keluarga yang salah satu anggotanya dibunuh oleh ayahnya. Lagi sebentar ia akan masuk ke bangku perkuliahan. Ia harap ia bisa mengejar mimpi terbesarnya. Seorang temannya yang akan masuk ke bidang hukum juga. Ia adalah Park Hana. Haneul bahagia karena Hana benar-benar menganggapnya teman. Dan hanya Hana yang tahu rahasia Haneul. Entah mengapa Haneul mempercayai Hana. Setelah kejadiannya di masa lalu, ia sulit untuk mempercayai orang lain. Hana tahu bahwa Haneul tidak bersalah secara hukum, hanya saja ia merupakan anak dari seorang pembunuh maka dari itu ia tetap akan disalahkan. Tapi Hana mengerti. Ia mengerti bahwa temannya ini membutuhkan seorang teman dan membutuhkan seseorang untuk menjadi pangkuan hidupnya jika suatu saat ia tiba-tiba akan jatuh. Karena lama-lama temannya pasti akan tahu siapa Haneul sebenarnya. Hana juga berfikir bahwa Haneul anak yang manis dan perhatian kepada teman-temannya.
Saat menginjak bangku perkuliahan nanti Haneul akan tinggal sendiri dan menyewa apartemen. Selama ini ia bekerja untuk membiayai hidupnya nanti. Dan saat ia kuliahlah saatnya. Ia belajar untuk mengejar beasiswa di universitas yang akan menjadi tempat ia mengejar mimpinya nanti. Dan setelah ia bisa mengejar mimpinya, ia akan mengganti seluruh biaya yang pernah Tn. Lee keluarkan untuknya. Ia tidak mau anak kandung dari Tn. Lee membencinya karena ayahnya mengeluarkan biaya untuk anak yang bukan dari darah ayahnya sendiri, Tn. Lee.
Beberapa bulan ia sudah menjalani masa-masa terakhirnya di SMA dan libur kelulusannya pun sudah didepan mata. Inilah saatnya ia akan meninggalkan keluarga yang sangat berarti buatnya. Ny. Lee yang memberikannya perhatian. Tn. Lee yang membiayai hidupnya. Dan anak laki-lakinya Lee Jonghyun yang selalu memberikannya semangat.
“Appa, Eomma..”
“Ne? Waeyo Haneul?” Tanya Ny. Lee.
“Terimakasih sudah merawatku sampai sebesar ini….”
“Ada apa dengan kau Haneul?” Saat ini Tn. Lee angkat bicara.
“Aku akan tinggal sendiri mulai saat ini. Aku akan hidup dengan diriku sebenarnya…”
“Wae? Apa kau tidak suka dengan keluarga ini Haneul?” Tanya Ny. Lee.
“Bukan seperti itu eomma… Aku sangat-sangat bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Tapi aku sudah dewasa. Dan selama ini aku merasa berhutang budi pada kalian. Kalian membiayai sekolahku, merawatku dan membiayai segala kebutuhanku. Aku berjanji akan mengganti uang kalian dan aku akan berjanji aku akan menjadi seorang pengacara yang sukses.”
“Kau tak perlu mengganti seluruh biaya yang pernah aku keluarkan. Aku membiarkanmu hidup seperti yang kau mau. Aku tahu kau sudah bisa menjalani hidupmu. Aku tak mau memaksamu untuk terus hidup bersama kami. Aku akan membayar apartemenmu selama 2 tahun. Kalau kau tidak mau maka kau harus tinggal bersama kami lagi.” Ujar Tn. Lee yang dibalas anggukan oleh Ny. Lee.
“Tapii… Baiklah.. Gamshamida appa.. eommaa.. Neo saranghae.. Terimakasih sudah merawatku dan terimakasih untuk segalanya. Aku akan terus menghubungi kalian atau mengunjungi kalian…” Haneul mengucapkan kata-katanya dengan air mata. Ia sedih akan meninggalkan keluarga ini tapi ia juga bahagia tidak akan membebani Tn dan Ny. Lee lagi.
“Aku akan menunggu janjimu. Menjadi seorang pengacara. Saat kau wisuda, kami akan datang untukmu. Ingat jangan lupa pada kami.”
“Tentu saja. Haneul selalu mengingat kalian.. Eomma, appaa Haneul rasa Haneul harus pergi sebelum Jonghyun datang. Sampaikan salam Haneul padanya. Saranghae. Anyeong..”
-------
Beberapa bulan ia menjalani kehidupannya tanpa Tn dan Ny. Lee dan beberapa bulan pula ia menginjak jenjang sekolah tinggi. Selama ini ia menjalaninya biasa-biasa saja. Tapi inilah kisah baru yang akan Haneul temukan. Selama ini Haneul yang Hana kenal tak pernah namanya jatuh cinta pada seseorang malah mencintai seseorang yang terkenal dingin dan tak bersahabat. Tetapi Hana tetap mendukung pilihan Haneul. Hanya saja Haneul tahu ia tak pantas bersanding dengan pria itu. Anak dari seorang pembunuh tak akan pantas memiliki pria yang tampan dan mapan sepertinya. Pria itu adalah Oh Sehun. Pria yang terkenal dengan sifatnya yang dingin dan ditakuti oleh para wanita, tetapi juga mencintainya.
Sebuah kejadian yang tak diharapkan oleh Haneul terjadi. Ia menabrak pria itu. Seketika ia mengambil barang-barangnya yang jatuh dan membungkuk 90 derajat sambil mengatakan maaf. Pria itu seperti menatapnya.
“Haneul. Lee Haneul.”
“Ne?”
“Nama yang cantik.”
“Eee?” Haneul bengong dengan perkataan pria ini. Ia berusaha mencerna kata-kata itu. Saat Haneul masih bingung dengan apa yang terjadi. Pria itu mengambil ponsel Haneul dari tangan wanita itu dan menuliskan nomornya, lalu memberikan panggilan ke nomornya itu. Saat sudah selesai, pria itu mengembalikan ponsel Haneul ke tangan pemiliknya.
“Nomor yang tadi itu milikku. Oh Sehun.”
“YA! Apa yang kau lakukan dengan ponselku eoh?!”
“Anyeongg..” Sehun berlalu begitu saja tanpa mempedulikan pertanyaan bodoh yang di lontarkan oleh Haneul.
Sungguh. Haneul tak menyangka bahwa seorang Oh Sehun akan melakukan hal seperti tadi. Benar-benar gila.
“YAA!! NAPPEEUUNN NAMJAA!!”
Sehun yang mendegar perkataan Haneul hanya menoleh dan tersenyum sinis lalu meninggalkannya. Hana yang baru saja datang langsung meng-introgasi Haneul.
“Apa sudah ada perkembangan Haneul-ah?” Dengan mata berbinar-binarnya.
“YA!! Pria itu sudah gila.”
“Wae? Walaupun begitu tapi kau tetap suka kan?”
Haneul tidak mengubris pertanyaan Hana. Ia berjalan menuju kelasnya yang disusul oleh Hana. Saat ia berjalan, ia merasakan ponselnya bergetar. Ia melihat nama appa disana.
“Ne appa? Waeyo?”
“…” Serasa petir-petir menyambar hatinya. Hancur. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.
“…”
“Ah ne.. Aku akaann segera kesana..”
Kaku. Seluruh badannya kaku serasa tak bisa bergerak.
“Ya! Haneul-ah? Neo gwenchana?”
“Nan angwenchana.. Bilang ke dosen hari ini aku tak bisa mengikuti pelajaran. Ada sesuatu yang harus aku utamakan. Anyeong..” Hana hanya menjawab dengan anggukan. Dan Haneul sudah berlari menuju luar sekolah.
------
“APPAAAAAA…” Haneul menangis melihat apa yang ada dihadapannya. Sedangkan Tn. Lee memegang tubuh Haneul agar ia tidak jatuh tiba-tiba.
“Aku bahkann tak pernahhh bertemu denganmu…me..nggaa..ppaaa kauu tiiinnnggaalllkkaannn akkkuu…” Dan kini mayat pria yang merupakan ayah kandung Haneul pun sudah tertutup dengan tanah. Ia memeluk Tn. Lee yang kini statusnya menjadi ayah angkat dari Haneul.
“Haneul-ah, sudahlah.. Ayahmu sudah tenang diatas sana bersama dengan ibumu…”
“Tapii.. aku belum pernah bertemu dengannya untuk terakhir kalinya….”
“Ini sudah takdir dari appamu… dan mungkin juga hukuman sebenarnya karena ayahmu pernah membunuh seorang presdir.”
“Mungkin kau benar appa..”
“Kalau begitu biarkan aku mengantarmu pulang dan membelikanmu makanan…”
“Gamshamida appa..”
----
2 days later
Haneul berdoa disebuah gereja. Ia mendoakan agar dosa-dosa ayahnya dimaafkan. Saat perjalanan pulang ia bertemu dengan Sehun.
“Ahh sepertinya kau ada dimana-mana eoh?” Ucap Sehun sambil melihat Haneul dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Kau fikir aku mahluk halus apa.” Haneul langsung meninggalkan Sehun. Ia tak mau mencintai pria itu lebih dalam lagi. Tetapi tangannya langsung ditahan oleh Sehun.
“Ya! Jangan kabur kau. Temani aku makan siang eoh.”
“Kau fikir aku orang yang tak punya kerjaan selain menunggumu makan?”
“Sudahlah tak usah banyak bicara.” Sehun langsung menarik Haneul masuk kesebuah restoran mewah dikawasan Seoul itu.
Isi hati Haneul yang sebenarnya adalah bahagia. Ia bahagia bisa bersama Sehun tapi ia tak mau jika Sehun berteman dengan seorang anak pembunuh.
“Mengapa kau menatapku seperti itu?”
“Anni..” dengan senyumnya yang bermakna itu. “Ah ye, mengapa kau bisa terkenal sekali dikampus eoh?” Pertanyaan itu keluar dengan sendirinya dari mulut Haneul.
“Kau bisa lihat kan, wajahku tampan dan keluargaku dari keluarga berkepunyaan lebih.”
“Ah ne.. Mian..”
“Tapi satu yang membuatku tidak bahagia dengan apa yang aku punya.”
“Apa itu?”
“Appaku. Ia meninggal karena dibunuh. Kejadian itu sudah 12 tahun yang lalu.”
“Eee?” Haneul terasa ditusuk beribu-ribu pisau.
“Saat ini aku memikirkan anak dari orang yang membunuh appaku. Aku tak menyangka bahwa dia melaporkan ayahnya sendiri sampai ayahnya pun tak mau mengakuinya sebagai anak lagi. Saat aku bertemu dengan perempuan itu lagi aku ingin bertanya sesuatu padanya. Mengapa ia rela melihat ayahnya tinggal di sebuah penjara. Aku iba pada perempuan itu walaupun aku juga benci padanya. Walaupun seharusnya aku tak membenci perempuan itu karena ia tidak bersalah. Tapi bagaimanapun ia juga anak dari orang yang membunuh appaku. Mian aku jadi cerita panjang lebar seperti ini padamu.”
“Ah ye.. Gwenchana Sehun-ah.” Ucap Haneul berusaha untuk tersenyum. “Maaf… Aku benar-benar minta maaf atas kesalahan yang ayahku perbuat sehingga kau kehilangan orang yang telah berharga dihidupmu. Kau benar.. Aku anak pembunuh. Sudah sepantasnya kau membenciku. Aku akan jauh lebih bahagia jika kau tidak bersikap baik padaku lain kali.” Batin Haneul. “Semoga kau dimaafkan di alam sana appa.. Dan jika kau dilahirkan kembali jangan kau ulang kesalahanmu lagi untuk menyakiti mahluk-mahluk didunia ini.” Lanjut Haneul.
“Aku rasa ini sudah sore. Mari aku antar kau pulang.”
“Ah terima kasih tapi aku bisa pulang sendiri kok..”
“Tidak, aku tidak mungkin membiarkan seorang wanita pulang sendiri.”
“Ah tidak apa-apa, aku sudah biasa pulang sendiri.” Sehun yang mendengar tolakan dari Haneul langsung menariknya untuk masuk kedalam mobilnya.
“Dimana rumahmu?”
“Aku tinggal disebuah apartemen.”
“Dimana apartemenmu?”
“Apartemen di daerah kampus.”
“Baiklah.”
“Kau tidak perlu berbuat baik seperti ini. Semakin kau berbuat baik padaku semakin besar rasa bersalahku padamu.” Batin Haneul.
“Ah ye.. Aku lihat kau orangnya sangat tertutup sekali eoh.”
“Ah begitulah.. Aku tidak terlalu suka untuk mengumbar privasiku kepada banyak teman. Aku rasa sendiri atau berdua itu lebih baik. Seperti temanku Hana yang selalu ada disaat aku membutuhkannya sebagai peganganku.”
“Ah iya.. Orang tuamu?”
“Mereka dirumah..”
“Lalu kenapa kau ingin tinggal di apartemen?”
“Aku rasa aku perlu hidup mandiri.”
Bohong. Semua kata-kata yang keluar dari mulut Haneul semua hanyalah kebohongan.
“Maaf aku berbohong padamu Sehun. Aku tahu kau benci padaku. Tapi aku tak mau kau tahu sekarang. Kau akan tahu nanti disaat yang tepat. Aku pasti akan memberitahumu siapa aku sebenarnya.”
------
Karena hidup tak sepenuhnya indah. Hidup setiap orang pasti akan menghadapi masalah dan mereka juga membuat sebuah kebohongan. Karena itu manusia hidup seperti apa mereka dilahirkan dan ditakdirkan. Sama halnya denganku, hidup dengan seorang ayah yang sering membunuh orang dan tanpa seorang ibu disampingku, tapi aku masih beruntung. Aku mau dianggap seorang anak oleh keluarga Lee atau keluarga angkatku. Mungkin keberuntungan itu tidak akan berlangsung lama karena Oh Sehun hadir dihidupku. Dan ia akan tahu siapa aku sebenarnya. Seorang anak dari orang yang membunuh ayahnya.
Beberapa hari ini aku tidak melihat Oh Sehun. Tidak biasanya. Atau… Jangan berfikiran yang tidak-tidak Haneul. Apa aku harus mengatakannya? Tapi apa keberanianku sudah cukup untuk menghadapinya? Aku rasa tidak. Menatapnya saja aku tidak kuat apalagi untuk mengatakannya. Hari ini aku pulang sendiri. Aku berjalan sambil memikirkan hal yang terjadi di masa lalu. Mengingatnya saja membuatku takut. Seperti phobia akan kenangan masa laluku sendiri. Karena terlalu lama tenggelam pada lamunanku sendiri, aku tidak menyadari bahwa Sehun sudah berada disampingku sekarang. Entah kapan ia datang, aku sendiri tak tahu.
“Saranghae…”
Kata-kata yang membuatku cukup kaget. “Ne?” Aku memastikan ucapannya.
“Saranghae Lee Haneul.”
Diam. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. “Sehun-ah.. Kau pikirkan baik-baik ucapanmu. Aku rasa kau salah. Kita baru saja kenal mana mungkin kau mencintaiku.” Ucapku membuat Sehun yakin.
“Aku sudah yakin dengan perasaanku sendiri. Percayalah.”
Aku berusaha memikirkan semua resiko yang akan terjadi jika aku menerima cintanya seorang Sehun. “Aku juga mencintaimu Sehun. Tapi maaf aku tidak bisa menerima cintamu.”
Aku lihat Sehun sedikit heran dengan jawabanku. Tapi setelah itu Sehun tersenyum. “Aku menerima jawabanmu. Tapi aku akan membuatmu menerima cintaku.” Aku tersenyum dan menjawabnya, “Aku tak yakin. Sampai kapanpun aku rasa aku tidak bisa menerimamu.”
Sehun membalas ucapanku yang membuatku tidak bisa membalasnya lagi, “Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti. Mungkin kau bilang tidak akan menerimaku sampai kapanpun sekarang. Tapi, siapa yang tahu bahwa Tuhan akan mempersatukan kita nanti? Kita jalani saja apa yang akan terjadi.”
Sehun berjalan meninggalkanku tapi langkahnya terhenti ketika mendengar ucapanku, “Sehun-ah, apa kau akan tetap mencintai wanita itu walaupun ia sudah menghancurkan hidupmu?”
Sehun terlihat bingung dengan ucapanku, “Maksudmu?”
Aku hanya tersenyum dan berjalan meninggalkannya.
“YA!! Pertanyaanku belum kau jawab!” Sehun berteriak kepadaku. Aku hanya membalikan badan dan menunduk 90 derajat dan meninggalkannya yang bingung dengan sikap dan perkataanku.
Tidak akan kau menerimaku Sehun. Aku sudah menghancurkan kehidupanmu. Bagaimanapun juga, aku yang bertanggung jawab atas semua perlakuan ayahku kepada ayahmu. Aku juga berdoa agar ayahku dan ayahmu nanti bisa bersahabat di alam sana dan tidak melakukan hal yang sama di kehidupan mereka selanjutnya. You have a bright future Sehun. Don’t fall in love with the wrong person. The person who make your life broken.(Kau mempunyai masa depan yang cerah Sehun. Jangan jatuh cinta pada orang yang salah. Orang yang sudah membuat hidupmu hancur.)
-----
Perempuan itu. Apa maksud dari ucapannya. Mengapa rasanya kata-kata tersebut tertuju benar-benar untukku. Seketika masa lalu itu datang kembali di ingatanku. Mata itu. Mata perempuan yang menangis di hari ayahnya di adili. Atau hanya ilusiku semata? Tapi aku benar-benar mengingat mata itu. Apa Haneul perempuan itu? Apa aku mencintai orang yang kubenci? Rencana apa lagi yang kau berikan kepadaku Tuhan. Memaafkan seseorang mungkin mudah tapi tak akan bisa menghilangkan luka tersebut. Mengingat kenangan pahit itu membuatku jarang bergaul dengan teman-teman. Aku selalu berfikir bahwa semua manusia itu jahat. Tapi ialah yang mengubah segalanya. Entah kenapa, berada disamping perempuan itu membuat perasaan dendamku hilang begitu saja. Siapa dia sebenarnya? Akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya esok setelah kelas selesai.
*The Next Day*
Saat aku masuk kedalam kelas, aku melihat sosok perempuan itu. Entah kenapa hari ini ia di kerumuni oleh teman-teman sekelasnya atau satu angkatannya.
“Haneul, jujur saja sama kita. Siapa kau sebenarnya eoh? Mengapa aku melihat anak kecil yang di internet saat kejadian pembunuhan itu mirip denganmu eoh?”
“Apa susahnya kau jujur eoh?”
“Memangnya apa gunanya kau berbohong disaat semua orang sudah mengetahuinya?”
Pertanyaan itu… Sama seperti pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada Haneul.
“Kalian semua diam. Bagaimana bisa Haneul menjawab perkataan kalian semua sedangkan kalian memberikannya pertanyaan tanpa henti.” Hana membantu Haneul. “Haneul-ah, aku rasa ini waktunya untuk kau jujur. Jelaskan sejelas-jelasnya pada mereka. Jangan membuat mereka salah paham dengan ucapanmu.” Kulihat Haneul berusaha untuk mengatakan sesuatu sampai akhirnya pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. “Haneul.. Apa ayahmu yang membunuh ayahku?” Seketika semua mata tertuju padaku dan Haneul. Haneul maju kedepan kelas.
“Maafkan aku telah membuat kekacauan ini. Memang benar anak kecil itu diriku. Mungkin kalian tak menyangka atau memang sudah menyangkanya. Maaf aku selama ini menyembunyikannya. Aku berusaha untuk tidak mengingat masa laluku yang cukup pahit dan membuatku phobia. Aku bahkan nyaris dibunuh oleh ayahku sendiri. Aku sedikit menyesali masa lalu itu. Ibuku juga sudah tiada. Saat itu aku hanya memiliki seorang ayah. Tapi tak ku sangka ternyata ayahku melakukan hal bodoh seperti itu. Sampai akhirnya Tuhan membuatku melaporkan perbuatan ayahku sendiri. Saat itu aku berumur 5 tahun. Aku merasa sedikit beruntung karena kepala kepolisian di Seoul mau merawatku sampai masa SMA-ku. Tentu saja aku masih mengingat ayahku sendiri, tetapi ia sudah tenang disana. Aku bahkan tak pernah menemuinya sejak 12 tahun lalu. Karena masa laluku itulah yang membawaku ingin menjadi seorang pengacara atau hakim. Aku tahu kalian tak akan mau berteman denganku lagi. Mian. Sehun-ah, inilah alasan mengapa aku tak mau kau jatuh cinta padaku. Ayahku telah membunuh ayahmu itu memang benar. Aku merasa berhutang nyawa denganmu. Maafkan semua kesalahan ayahku, walaupun aku tahu maafku itu sangat tidak berarti dengan nyawa ayahmu. Silahkan jika kau ingin membenciku, aku siap.” Aku cukup kaget dengan penuturan Haneul. Perempuan itu menangis dengan menundukan kepalanya. Aku melihat teman-temanku semua berbicara seperti menyampaikan pendapat mereka dan Hana berusaha menenangkan Haneul. Apa yang aku dengar ini semuanya benar?
“Haneul.. Kami tidak marah padamu. Kau mau jujur dengan kami. Padahal yang kau lakukan itu cukup benar, tetapi mengapa kau tidak mau menceritakannya pada kami agar kami tidak salah paham padamu?”
“Karena mau bagaimanapun aku anak dari seorang pembunuh.”
“Tenang saja kami akan tetap berteman denganmu, kecuali….” Semua mata melihatku. Mata itu juga melihatku. Aku benar-benar tak menyangka. Aku mengambil ransel dan kunci mobilku. Segera aku pergi dari kelas itu dan berencana untuk tidak mengikuti pelajaran. Aku masih tak menyangka bahwa Haneul merupakan perempuan itu. Apa yang aku harus lanjutkan sekarang? Berusaha untuk membuang jauh-jauh perasaan ini? Aku rasa tidak mungkin. Perasaan ini sulit untuk dihilangkan. Aku sudah terlanjur nyaman bersamanya. Mungkin saat ini emosiku sudah tak bisa dikendalikan lagi. Aku lihat ia berlari keluar kelas. Aku mengejarnya dan menahannya. Emosi ini sudah menjalar keseluruh tubuhku.
“YA! KAU PIKIR AKU APA SELAMA INI KAU BOHONGI EOH?! TERUTAMA SOAL NYAWA AYAHKU! KENAPA KAU TAK PERNAH MENCERITAKANNYA PADAKU!!!!!!!!!!!! AKU TAHU KAU HANYA SEORANG ANAK PEMBUNUH YANG SUKA BERBOHONG!!!!!!!!!! DASAR WANITA LICIK! KAU SAMA SAJA DENGAN AYAHMU! ANAK SEORANG PEMBUNUH TETAPLAH ANAK SEORANG PEMBUNUH!”
-----
“YA! KAU PIKIR AKU APA SELAMA INI KAU BOHONGI EOH?! TERUTAMA SOAL NYAWA AYAHKU! KENAPA KAU TAK PERNAH MENCERITAKANNYA PADAKU!!!!!!!!!!!! AKU TAHU KAU HANYA SEORANG ANAK PEMBUNUH YANG SUKA BERBOHONG!!!!!!!!!! DASAR WANITA LICIK! KAU SAMA SAJA DENGAN AYAHMU! ANAK SEORANG PEMBUNUH TETAPLAH ANAK SEORANG PEMBUNUH!”
Haneul terlihat shock dan kaget dengan bentakan Sehun. Semua mata tertuju padanya, kecuali anak-anak dari jurusan hukum yang sudah tau kehidupan Haneul sebenarnya.
“Aku memang anak seorang pembunuh. Lalu maumu apa?! Kalau kau berpikir bahwa aku ingin hartamu silahkan! Asalkan itu buat kau bahagia. APAAA AKUU HARUUSS MATII JUGAA AGAR NYAWA AYAHMU BISA TERBAYARKAN HAH???!!!!!! JAWAAABBBB AKUU SEHUNNN!!!!”
Sehun yang juga tidak kalah kagetnya hanya bisa diam. Setelah itu Haneul mengambil langkah cepat atau bisa dibilang berlari. Ingin menyembunyikan rasa malunya setelah dipermalukan oleh Sehun. Hana sahabat Haneul yang melihat kejadian tadi menyusul Haneul. Sebelumnya ia berkata sesuatu kepada Sehun.
“Jernihkan dan control emosimu! Emosimu hanya bisa menyakiti Haneul! Dasar pria pengecut!”
Hana kemudian berlari ingin mengejar langkah Haneul. Ia melihat Haneul sudah mendekati jalan raya. Haneul tak peduli dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Ia tetap berlari sampai ia tidak menyadari bahwa sebuah mobil menuju kearahnya.
“Haneul awaass!!!!!!” Hana berteriak. Tapi telat sudah. Mobil tersebut sudah dekat dengan Haneul.
“AAAAAA…” Haneul terjatuh dengan darah yang berceceran dijalan. Hana berlari kearah Haneul.
“Haneul-ah!! Palli ireonaaa!!!” Hana menangis melihat sahabatnya yang malang ini. Ia meminta tolong kepada teman-temannya yang akan pulang. Untung saja temannya berbaik hati mengijinkan Hana membawa Haneul kerumah sakit dengan kendaraannya. Setelah 15 menit perjalanan dengan kecepatan tinggi, mereka sampai dirumah sakit. Haneul langsung dilarikan ke ruang operasi. Keadaan Haneul sangat kritis. Hana meraih ponselnya. Ia menelpon seseorang. Lee ahjussi. Ayah angkat dari Haneul. Selang waktu Hana menelpon ayah dari Haneul. Tn. Lee datang bersama dengan Ny. Lee. Tampak raut wajah panic dan takut tampak pada wajah Ny. Lee. Tn. Lee berusaha menenangkan istrinya. Haneul sangat disayang oleh kedua orang tua angkatnya. Hana menelpon seseorang lagi, tetapi ia menelpon di tempat yang jauh dari Tn. & Ny. Lee.
“YA! OH SEHUN!!”
Seseorang yang ditelpon oleh Hana adalah Sehun. Awal dari kejadian ini terjadi.
“Lihat lah akibat dari kecerobohanmu! Haneul sedang menjalani masa kritisnya saat ini!”
Saat itu pula Tn. Lee muncul dihadapan Hana.
“Hana.” Hana yang kaget atas kehadiran Tn. Lee pun tak dapat berkata-kata lagi.
“Ne ahjussi.”
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku mendengar kau menuduh seseorang. Ada apa? Aku ingin kau jujur padaku. Aku tahu kau sahabat Haneul, kau pasti tahu segalanya tentang kejadian ini.”
“Eee… Se – sebenernya – “
“Cepat katakan Hana.”
“Tadi disekolah teman-teman satu jurusan kami sudah tahu seorang Haneul sebenarnya. Lalu… Sehun. Anak dari ayah yang dibunuh oleh ayah kandung Haneul mengetahuinya. Saat Haneul berjalan keluar dan sudah berada dikoridor. Sehun menahannya dan membentaknya dengan mengatakannya anak dari seorang pembunuh. Jadi orang-orang sudah mengetahui siapa Haneul sebenarnya. Mungkin karena Haneul merasa sakit hati, maka ia berlari tanpa memperhatikan jalan. Aku sudah berusaha mengejar Haneul. Tapi sudah terlambat..”
“Aku sudah menduga. Aku ingin kau melarang Sehun untuk berhubungan lagi dengan Haneul. Aku takut phobianya akan kumat kembali. Dulu saat umur 7 tahun ia sering sekali merasa despresi karena terus kebayang dengan masa lalunya. Aku berusaha membuat phobianya hilang. Akhirnya keajaiban datang dan pada umur 8 tahun phobianya tak ada lagi. Aku takut ini akan terulang lagi.”
“Aku bahkan tak menyangka bahwa masa kecilnya mengenaskan.”
“Kalau begitu kau pulang saja. Nanti aku akan mengabarimu keadaan Haneul.”
“Ne ahjussi.. Aku akan kembali.” Hana membungkukan badannya dan pergi meninggalkan Tn. Lee. Tn. Lee kembali kedepan ruang operasi.
Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Haneul keluar.
“Bagaimana keadaan anak saya, uissa-nim?” Dokter itu hanya menghempaskan nafasnya.
“Ia baik-baik saja kan?” Tanya Ny. Lee.
“Maaf Tn, Ny. Keadaan Haneul sangat parah. Mobil itu melaju sangat tinggi sehingga benturan yang mengenai otak dan beberapa tubuhnya cukup keras. Terutama dibagian otaknya. Kemungkinan ia untuk hidup cukup kecil. Berdoa saja untuk kesembuhannya. Kami akan memindahkannya keruang perawatan intensif. Kami permisi dulu.”
Perkataan dokter itu cukup membuat tangis Ny. Lee pecah. Walaupun Ny. Lee bukan ibu kandung dari Haneul, tapi ia sangat menyayangi Haneul. Dulu, apa yang Haneul ingin selalu dikabulkan oleh Ny. Lee. Saat dirumah, Haneul lah yang membuat suasana menjadi hangat. Tapi apakah suasana itu akan lenyap? Apakah Haneul akan pergi? Apakah Haneul yang harus membayar dosa-dosa ayahnya? Iya, sepertinya itu yang akan terjadi.
Sudah 1 minggu Haneul dirawat, tetapi ia belum sadar juga sampai sekarang. Sampai saat itu juga Sehun ingin menemui Haneul tetapi dilarang oleh Tn. Lee.
“Kau belum cukup dewasa untuk mengontrol emosimu nak.”
“Maaf ahjussi tapi berikan aku kesempatan untuk berbicara dengan Haneul.”
“Saat ini aku takut ia akan pergi dan aku takut jika ia sadar ia akan hilang ingatan. Saat ini juga aku ingin menjaganya dari seseorang yang tak bertanggung jawab.”
“Ahjussi aku cukup dewasa untuk mengerti arti cinta. Saat ini aku ingin berada disampingnya, menjadi seseorang yang bertanggung jawab. Seseorang yang akan berusaha untuk menghapus dendam yang ada selama ini.”
“Tapi tetap. Keputusanku sudah bulat. Jauhkan Haneul. Biarkan ia bahagia dengan jalannya sendiri.”
“Tetapi bagaimana jika ia bahagia bersamaku?”
“Aku tak tahu.. Tapi pulanglah.. Walaupun kau bilang ibumu dan kau sudah memaafkannya tapi aku tetap tidak bisa.”
“Untuk mendapatkan orang yang kita cintai butuh perjuangan yang keras tentunya. Disitu pula aku akan berjuang untuk mendapatkan cinta Haneul.”
“Oh Sehun pulanglah! Jangan ganggu sahabatku lagi. Sudah cukup kau menyakitinya. Sudah cukup banyak sakit yang dia rasakan. Hiduplah dengan bahagia tanpa Haneul.” Ucap Hana yang mendengar setiap perkataan dari Oh Sehun dan Tn. Lee.
“Hana! Apa yang kau lakukan jika kau melihat Lu Han didalam sana dalam keadaan kritis, sedangkan kau tak diberikan ijin untuk menemuinya lagi. Apa yang kau lakukan? Eoh? APAAAAA!!!” Sehun mengacak rambutnya. Matanya sudah memerah saat ini. Keadaannya sangat kacau.
“Haneul mencintaimu sejak kau tidak mengenalnya. Ia menyimpan perasaannya sampai saat ini. Ia bertahan sampai saat ini dengan statusnya yang sangat kau benci. Tapi apa yang kau lakukan padanya?”
“AAARRRRRGGGHHH!” Sehun menutup matanya. Air matanya turun. Ini pertama kalinya Hana melihat Sehun menangis.
Tapi…..
Sebuah teriakan terdengar dari arah ruang perawatan Haneul.
“HANEEEUULLL!!!!! JANGGAANN TINGGALKAN EOMMAAAAA!!”
Sehun, Hana dan Tn. Lee yang mendengar teriakan tersebut langsung masuk kedalam ruangan tersebut dan Hana hanya melihat garis lurus pada detak jantung Haneul.
“Apa artinya Haneul akan pergi?” Hana menangis hingga air matanya membasahi wajah Haneul.
--------
Aku merasa asing dengan tempat ini. Padang yang penuh dengan bunga-bunga. Aku melihat tubuhku seperti sebuah bayangan. Aku mendengar eomma meneriakiku. Tapi darimana asal suara itu. Aku tak melihat seseorang disana. Aku berpakaian putih dan aku sendiri tak bisa menyentuh diriku sendiri. Apa saat ini aku hanya bersama jiwaku. Sedangkan tubuhku tergeletak dirumah sakit. Apa aku sudah mati? Saat aku menemukan sosok eomma. Aku mencoba meraihnya. Tetapi angin-angin ini mendorongku semakin jauh, mendekati gerbang kebahagian.
“Apa kau akan meninggalkanku begitu saja!!! Ini aku Haneul. Aku Sehun!! Sadarlah aku mohon!!”
Serasa angin itu berhenti meniupku lebih jauh. Aku berhenti dan merasakan jiwaku akan kembali kedalam tubuhku.
Jiwaku kembali. Aku pasti bisa bertahan hidup. Aku percaya.
------
“Maafkan aku Haneul. Aku berjanji untuk lebih dewasa dan bisa mengontrol emosiku. Aku harap kau sadar. Aku harap kau memaafkanku dan aku ingin kau menjadi pendamping hidupku. Sadarlah Haneul. Aku mohonnn..”
Tn. Lee hanya ingin melihat kebenaran Sehun. Perasaan tanpa emosinya. Inilah yang ingin Tn. Lee lihat. Hana juga sedikit tersenyum melihat kesungguhan Sehun.
Saat itu juga mata dan jari manis Haneul mulai bergerak.
“Se – Sehun..” Sehun menghapus air matanya dan tersenyum. Semua orang yang berada diruangan itu tersenyum.
“Aku disini. Maafkan aku Haneul.”
“Aku tak marah padamu tapi aku marah pada diriku sendiri.”
“Aku juga meminta maaf, karena aku kau seperti ini. Aku sadar dengan perasaanku saat ini. Saranghae..”
“Apa itu benar?”
“Tentu saja…” Sehun mengecup bibir Haneul sekilas.
“YA! Bisakah kalian tidak melakukan hal itu didepan banyak orang?” Ucap Hana dengan bibir manyunp-nya. Haneul dan Sehun hanya bisa tersenyum.
“Hana.. Terimakasih kau mau menjadi temanku. Mau menjadi tempat aku berbagi cerita dan menjadi pelindungku disaat orang-orang ingin menyakitiku. Eomma.. Appa.. Terimakasih kalian mau merawatku dan menyayangiku.”
“Tentu saja. Aku kan teman terbaikmu Haneul.” Ucap Hana.
“Eomma sama appa juga sayang padamu Haneul. Jika kau sudah diperbolehkan pulang. Kau tinggal dirumah lagi ne? Eomma tidak ingin mendengar penolakan darimu.”
“Baiklah eomma..”
“Tenang saja eommoni.. Tak lama lagi Haneul akan menjadi istriku.”
Ruangan yang awalnya berisi tangisan menjadi sebuah tawa yang sangat berarti.
-----
Sudah 1 minggu setelah Haneul sadar dan ia diperbolehkan untuk pulang. Saat ini, ia duduk di halaman belakang rumah keluarga Lee. Duduk di atas rerumputan sambil menulis sesuatu pada buku hariannya.
“Aku belajar banyak dari kehidupanku. Berawal dari masa laluku yang buruk berubah menjadi kehidupan yang jauh lebih baik. Tak selamanya menjadi anak dari seorang pembunuh dibenci oleh teman-temannya. Hanya saja orang itu tidak ingin jika derajatnya turun. Hanya teman yang benar-benar tulus akan berteman denganku dan orang yang memiliki cinta yang besar yang akan menjadi suamiku 3 hari lagi. Di masa kritisku, ayah dan ibu angkatku berada disampingku. Di saat jiwaku akan menjauh, Tuhan menghentikannya. Aku bisa hidup jika aku tak menyerah pada hidupku. Dan jika aku menyerah, mungkin saja aku tak akan bisa menulis diatas buku ini. Rencana Tuhan memang indah.”“Eomma. Appa. Baik-baiklah kalian diatas sana. Aku juga akan selalu berterimakasih pada Appa dan Eomma Lee yang merawatku dari aku kecil hingga saat ini. Dan aku harap kalian bahagia melihat aku yang akan menjadi calon istri dari Sehun.” Haneul tersenyum saat mengucapkan kata-kata tersebut. Ia mengucapkannya sambil memandang langit, sehingga ia tidak tahu keberadaan Sehun yang akan berjalan kearahnya.
Sehun melingkarkan tangannya dan mencium bibir manis Haneul.
-The End-
“Percayalah rencana Tuhan itu indah. Janganlah menyerah pada hidupmu yang awalnya hancur dan tak berarti sama sekali.” – Lee Haneul.
“Emosi tak akan menyelesaikan masalah. Kau hanya akan menghancurkan segalanya termasuk kau akan menghancurkan hidup seseorang yang kau cintai.” – Oh Sehun.
“Jangan sampai kau melepaskan seorang sahabat/ orang yang kau cintai yang selalu ada untukmu.” – Park Hana.
“Berbahagialah dengan jalanmu sendiri. Hanya dirimu sendiri yang bisa menemukan kebahagian itu.” – Author, Sherly.
Sunday, 14 December 2014
[COMINGSOON] FanFiction Of Lu Han "Miracle"
[ComingSoon] FanFiction of Lu Han "Miracle"
-----
“I love you, Angela..”
“I love you too, Lu Han..”
------
“Berikan aku waktu. “
------
“Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkan ku Angela?”
------
"Berkata "I LOVE YOU" memang mudah untuk diucapkan. Kejujuran dari hati lah yang lebih dibutuhkan. Tuhan apa sebuah keluarga yang sudah hancur bisa utuh kembali? Jawab aku."
Christmas project comingsoon...------Miracle------
24 December 2014, Christmas Eve {}
Love you guys!!
Thursday, 23 October 2014
Just what what xD
Just Post xD
I don't know what to post today but I just want to share you all about my fact >w<
1. Sherly Irawati Wennarto. You can call me Sherly or whatever do you want to call me ^^
2. I love watching youtube, playing tumblr, and online.
3. I love all food or dessert as long as it sweet :9
4. Cheerfull, joyfull, and hyperactive person!!!:$
5. I love RILAKKUMA so muucchhhh :* A bear who has a flat face but being cuteee~
6. I love a person who is the most caring and loving me <3
7. I have a lot of precious person in my life :3
8. The most things that I love to do is HYBERNATE >w<
9. I'm a teenager who can fall in love to someone....../?
10. Sometimes I being hyperactive and sometimes I can be a shy person._.
11. Chinese-Indonesia person.
12. Novel and comic addict <=p
13. July 1999 my lovely born day ^^
14. "If I can reach out of milky way, I would play around all galaxy."
15. Music addict '-')/
16. Fav youtubers Bethany Mota, Megan Nicole, Tiffany Alvord and the others.
17. I would like to be a famous youtubers someday :3
18. I love selfie #sometimes
19. "Fairytale is the most favorites story."
20. LOVE <3
That's all ><
Don't forget to follow me guys!
Wednesday, 22 October 2014
Healthy Food/ Snack Ideas [Part 1]
Healthy Strawberry Snack
Ingredients :
1. Strawberries
2. Plain yogurt (you can use any flavor)
3. Some oat
4. Some milk
=>How to make Healthy Strawberry Snack<=
First chop some strawberries into 4 part. Then take plain yogurt, oat, and milk. Put some plain yogurt at the first layer, then put some oat and strawberries. Repeat it until your glass full.
Enjoy It !!^^
Hope you like it~ See you and happy blogging <3
Tuesday, 21 October 2014
New Fanfiction Trailer!!
Melody In The Rain
New fanfiction trailer of "Melody In The Rain.."
Cast? Secret.
Don't forget to open this blog for daily update(if I can) . I hope you like my storyline, cover and vid trailer of it!! ^^
Follow Me!!
Instagram : sherlyirwti_
Twitter : @Sherlyirwti_
Wordpress : www.sherlyirawati99.wordpress.com
I would love you to be my friends readerrr ^^
See youuuu >w<
Wednesday, 17 September 2014
[Fanfiction] Lovely Nightmare (Sehun & Seulgi)
Lovely Nightmare
Author : Sherlyirwti_ (IG and Twitter)
Cast : Sehun & Seulgi
Genre : Romance
Length : One Shoot
Terkadang
sesuatu yang tidak kita inginkan benar-benar menjadi kenyataan yang buruk.
Nightmare. Bisa saja di bilang seperti itu. Apa jadinya jika seorang yeoja
manis dan kaya raya mempunyai mimpi yang benar-benar buruk dalam hidupnya?
Sungguh malang nasib yeoja satu ini. Terutama dijodohkan oleh kedua orang
tuanya di saat usia muda seperti ini. Mempunyai suami sangat merepotkan bagi
yeoja satu ini. Ia tidak ingin menikah muda dan ia ingin melanjutkan study nya
di Prancis(fashion designer). Tapi apa daya, dia memiliki suami yang sama
sekali tidak menyayanginya. Sama sekali tidak memperhatikannya. Selalu pulang
malam, dan jarang sekali membagi waktunya di rumah. Suami macam apa dia. Saat
ini ia ingin meninggalkan tanah kelahirannya. Buat apa dia di Seoul kalau ia
hanya di rumah tanpa melakukan kegiatan apapun? Membosankan. Toh orang tuanya
mengizinkannya untuk pergi melanjutkan studynya di Prancis saat ia sudah
menikah. Jadi kapanpun ia mau pergi boleh saja toh? Nama yeoja itu Park Seulgi.
“Seulgi-ah!!
Kenapa kau tak membangunkanku eoh? Gara-gara kau aku jadi telat.”
“Ya!!! Aku
sudah membangunkanmu daritadi tapi kau tidak bangun-bangun.”
“Terserahlah.
Alasanmu saja cih.”
“YA!!! OH
SEHUNNNNNNNNN!!!!!!”
“Heh yeoja
gila. Aku ini suamimu, tidak sopan kau memanggilku seperti itu.”
“Terserahku.
Toh aku tak mau mempunyai suami seperti kau.” Seulgi langsung meninggalkan
Sehun, suaminya.
“Siapa juga
yang mau mempunyai istri seperti kau!!” Sehun pun ikut berteriak.
Seulgi tidak
mengubris teriakan Sehun sama sekali. Ia sudah terbiasa.
“Aku pergi
kerja dulu.”
“Pulang
malam lagi?”
“Hmmm..”
“Cihh! Dasar
suami gila, bagaimana bisa dia pulang malam setiap hari eoh?” batin Seulgi.
Melakukan
apa selain men-design baju-baju untuk butik barunya nanti. Ia berencana kalau dia
tidak dapat melanjutkan studynya, ia akan membuka butik baju design dia
sendiri.
Malam
harinya~~~
00.00
“Aku
pulang.”
Sehun masuk
ke dalam kamar, melihat istrinya tertidur lelap. Ia sedikit kasian melihat
keadaan istrinya ini. Tapi bagaimana? Ia tidak bisa membohongi perasaannya
sendiri. Ia tidak mencintai Seulgi sama sekali. Tapi ia akan berusaha membagi
sedikit cintanya kepada Seulgi.
“Maafkan
aku. Tapi aku tidak mencintaimu tapi aku menyukai seorang yeoja bernama Minra.
Selama ini aku tidak terlalu lembur. Tapi aku memberikan waktuku untuknya.
Maaf.” Batin Sehun.
Sehun pun
membaringkan dirinya di sebelah Seulgi. Matanya pun perlahan tertutup dan
akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.
KRINNNGGGGG~~~~
Sehun bangun
tepat pada waktunya. Tapi sepertinya kali ini tampak aneh. Apa yang sebenarnya
terjadi? Ia lirik ke sebelahnya dan mendapatkan Seulgi masih tertidur. Tidak
biasanya ia bangun jam segini. Sehun mengecek suhu tubuh Seulgi. Benar suhu
tubuh Seulgi sangat tinggi, wajahnya merah pucat, bibirnya pun seperti itu.
Sehun yang tak mengerti apa-apa langsung membawa Seulgi ke rumah sakit. Ia tak
bisa menghubungi orang tuanya maupun dari Seulgi. Orangtua mereka sama-sama
lagi sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
----------------------------------------------------Lovely
Nightmare-----------------------------------------
“Apa yang ia
lakukan kemarin?” Uissa-nim bertanya kepada Sehun setelah mengecek kondisi
Seulgi.
“Aku tak
tau. Aku bekerja kemarin hingga malam.” Jawab Sehun dengan sedikit berbohong.
“Kau harus
menjaganya. Kondisinya sangat sensitive/?, kemarin kalau saya ingat hari sedang
hujan. Apa dia kehujanan?” Tanya uissa-nim.
“Aku
benar-benar tidak tau.” Sehun tak tau harus menjawab apalagi.
“Dia akan di
rawat inap selama 3 hari. Ia orang yang sangat lemah.”
“Baiklah,
lakukan yang terbaik buat dia. Aku permisi dulu.”
“Baik,
silahkan.”
------------
“Engghhh..
Dimana aku? Kenapa aku di pasang infus. Ahh, rumah sakit lagi. Sungguh
membosankan. Kenapa tubuhku ini sangat lemah.” Ucap Seulgi.
“Kau sudah
sadar?” Sehun masuk dan bertanya.
“Ya kau bisa
lihat sendiri keadaanku.”
“Sudah
sakit, masih bisa saja bersikap dingin cih.”
“Ngapain kau
disini?”
“Memangnya
kenapa?” ucap Sehun dingin.
“Kau kerja
saja sana sampai larut malam. Dan kalau perlu tidak usah pulang saja sekalian.”
“Hey!! Kau
itu tidak tau di untung atau apa?! Sudah untung aku mau perhatian padamu.”
“Aku tak
butuh itu.”
“Kau ngapain
saja hah sampai bisa sakit seperti ini??!!”
“Bukan
urusanmu.”
“HEY!! Aku
bertanya baik-baik denganmu!”
“Aku bertemu
dengan Luhan saat berbelanja jadinya Luhan mengajakku untuk pergi
berjalan-jalan. Saat mau pulang, langit sudah mendung. Di pertengahan jalan aku
kehujanan. Puas?”
“Kau
merepotkan saja.”
“Kau hanya
perlu meninggalkanku. Arraseo?”
“Kalau bukan
karena kau istriku aku tak akan mau.”
“Hah. Kenapa
kau tidak minta cerai saja padaku? Urus pekerjaanmu atau mungkin kekasih hatimu
cih.”
“Kau mau
lihat aku di gunting oleh appa ku eoh?”
“Aku yang
akan bertanggung jawab. Aku malas mempunyai suami seperti kau. Mungkin ini
mimpi TERBURUK dalam hidupku.”
“YA!!!”
“Urus
perceraian kita secepatnya. Dengan begitu aku bisa melanjutkan studi design ku
di Prancis.”
“Are you
crazy? Kau mau ke Prancis?!”
“Why not?
This is my plan, and this is my world. Not your.”
“Aku tidak
mengizinkanmu. Sangat tidak.”
“Ahhh
sudahlah~ Aku capek berurusan denganmu. Pergi kerja saja kau. Aku bisa menelpon
Airin untuk menemaniku.”
“Ok. Jangan
kau mencariku!”
“Oh tidak
akan!”
Brakk~
“Dasar pria
sinting. Tutup pintu saja seperti itu. Ia pikir ini rumah nya apa. Rumah sakit
seperti itu perlakuannya. How crazy he is! Ck.”
----------------------------------------------Lovely
Nightmare-----------------------------------------------
“Anyeong
oppa.”
“Anyeong
chagi-ya.”
“Mengapa
mukamu kusut begitu oppa?”
“Aku tak
apa-apa.”
“Kau yakin?”
“Kau
istirahat di apartemen ku saja.”
“Tidak
terima kasih.”
“Ayolah~”
“Baiklah
kalau kau memaksa..”
“Yeay!!!!”
SKIP
“Airin,
mengapa aku bisa mempunyai suami segila dan sesinting dia sih.”
“Walaupun begitu
dia tetap suamimu. Tapi aku tak pernah melihat suamimu.”
“Aku tak mau
kau tau kalau aku mempunyai suami seperti dia. Cukup aku ceritakan saja.”
“Kau bahkan
tidak memberi tau namanya.”
“Oh Sehun.
Itu namanya.”
“AAAAAAAAAAPPPPAAAAAA?????!!!!!”
“Hey ini
rumah sakit kau jangan berteriak seperti itu.”
“Maaf, tapi
aku benar benar terkejut.”
“Memangnya
kenapa?”
“Dia
direktur di perusahaan aku bekerja.”
“Lalu???”
“Kau bilang
dia selalu lembur kan??”
“Iyaaa.”
“Kita sudah
pulang dari kantor sekitar jam setengah 7. Lalu aku lihat dia pergi bersama
dengan seorang wanita yang selalu datang ke kantor sekitar jam 6. Aku pernah
mengikutinya. Mereka pergi makan lalu ke apartemen wanita itu.”
DEG!
Tes tes tes…
“Seulgi
gwenchana??”
“Nan
gwe…cha…naa…” ucap Seulgi sambil menangis.
“Kau kenapa
menangis?”
“Aku tak
menyangka dia bisa membohongi istrinya sendiriii…”
“Sabar
Seulgi.”
“Airin,
seperti apa sih rasanya jatuh cinta?”
“Kau akan
tau dari perasaanmu dan dirimu sendiri.”
“Jika kita
melihat pria yang kita sayangi bersama dengan wanita lain apa itu akan terasa
sakit Airin?”
“Aku rasa
begitu.”
“Apa aku
mulai jatuh cinta pada Oh Sehun.”
“Karena
selama ini kau bersama dia. Mungkin saja itu terjadi.”
“Aku ingin
bertemu dengan Oh Sehun sekarang. Ia pasti berada di apartemen wanita itu.”
“Tapi
keadaanmu masih seperti ini.”
“Aku tak
peduli.”
“Baiklah
jika kau memaksa.”
---------------------------------------------Lovely
Nightmare----------------------------------------------
Setelah
mereka berdua sampai di apartemen Minra. Mereka meminta kunci yang ada di kamar
222 (Nomor kamar apartemen Minra) dengan alas an bahwa mereka adik dari Minra.
Walaupun dengan tubuh yang masih di bilang lemah, tapi Seulgi tetap berusaha
untuk kuat. Airin yang di sebelahnya sedikit merasa takut. Setelah mereka
sampai dan berhasil membuka pintunya. Seulgi menerobos ke kamar Minra. Dan
ternyata Minra dan Sehun lagi berciuman, dan baju Sehun sudah terbuka.
“Aaappaaa…yaannggg
kalian lakukaann dii apartemeenn kuu..” Minra sedikit kaget.
“Aku yang
harus bertanya. Kenapa kalian tidak menikah saja hah?” Seulgi menahan tangisnya
dan tubuhnya masih lemah, suaranya pun serak. Airin membantu menjaga
keseimbangan Seulgi.
“YAA!!!
PARKSEULGI APA YAANGG KAUU LAKUKANN?!!!!”
“Aku hanya
memastikan apa yang sedang terjadi dan apa alas an kau pulang malam selama ini.
Jadi ini alasannya.”
“Hey dasar
wanita gila.” Minra meneriaki Seulgi.
“Sudah Minra
biar aku yang bicara padanya. SINI KAUU PULAANGGG!!” Teriak Sehun sambil
menarik Seulgi.
“YA OH
SEHUN!! KAU JANGAN BERSIKAP SEPERTI ITU PADA WANITA! APALAGI WANITA ITU SANGAT
LEMAH!!!” Teriak Airin yang percuma tak di pedulikan oleh Sehun.
“Sekarang
kau pergi dari apartemenku.”
“Dengan
senang hati!”
------------------------------------------------------Lovely
Nightmare--------------------------------------------------
“YA! PARK
SEULGI BUAT APA KAU DATANG HAH?!!”
“AKU DATANG
BUAT DIRIKU DAN MASA DEPANKU!”
“KAU BERANI
SEKALI HAH?! BUKANKAH KAU BILANG SENDIRI KALAU KAU TAK AKAN MENCARI KU!”
“KALAU
BEGITU AKU SALAH MENCARIMU BR*NGS*K!!”(maaf-_-)
“APA KAU
BILANG??!!”
Plaaakk~
Sehun
kemudian memandang tangannya.
“Apa yang
sudah aku lakukan??” batin Sehun.
“TAMPAR AKU
LAGI SEHUN!!!”
“Maafkan
aku..”
“AKU MAU
KITA CERAI!! BAGAIMANA JIKA WANITA ITU MENGHAMILI ANAKMU HAH?!! AKU TAK MAU DI
MADU OLEH MU!! AKU BUKAN WANITA MURAHAN!!”
“Aku tak mau
bercerai denganmu!!!”
“AKU YANG
MAU!! AKU SUDAH MUAK SAMA HIDUPKU SEPERTI INI. LEBIH BAIK AKU MELANJUTKAN
SEKOLAH DARIPADA MENIKAH DENGAN MU! AKU PIKIR DENGAN AKU BELAJAR MENCINTAIMU
SETIDAKNYA RUMAH TANGGA INI AKAN MENJADI SEDIKIT HANGAT! TERNYATA APA?! LEMBUR?
BOHONG! LEMBUR APANYA BERSAMA DENGAN WANITA ITU!!”
Sehun yang
frustasi pun segera mencium Seulgi.
Chuuuu~
“Enghh.. Apa
yang kau lakukan??!!” Protes Seulgi saat Sehun melepaskan ciumannya.
“Maafkan
aku.” Ucap Sehun benar-benar merasa bersalah.
“Percuma kau
minta maaf padaku. Keputusan ku sudah bulat, aku akan tetap menceraikanmu. Aku
sudah melihat kejadian itu dengan mata kepala ku sendiri.”
“Tapi aku
tak mau. Aku akan mempertahankan keluarga ini.”
“Kenapa
tidak dari awal saja kau berkata jujur. Tidak perlu kau bohong bahwa kau
lembur. Buat apa Oh Sehun???!!!”
“Aku tak
bermaksud untuk bohong. Tapi aku juga tidak ingin menyakiti perasaanmu. Aku
masi menganggap kau itu istriku!”
“Sudahlah
tak usah mengelak. Cukup Oh Sehun!! Mungkin aku harus bersikap lebih dewasa
tapi kau lebih bersikap layaknya seorang SUAMI!”
BRAKKK!!
Pintu kamar
yang di tutup cukup keras oleh Seulgi. Sehun tak bisa menahan.
“Kenapa aku
harus berbohong!! Arggghhh.. Kenapa akhirnya harus seperti ini!! Apa yang
terjadi padaku!! Kenapa aku menjadi kacau seperti ini arrrrggghh!!!” batin
Sehun.
----
Seulgi
mengambil kopernya, memasukan beberapa baju yang paling ia sukai dan yang perlu
ia gunakan saat pergi nanti. Ia menelpon salah satu travel agent langganannya.
“Pesankan
aku tiket ke Prancis hari ini.”
“…”
“Terimakasih..”
Seulgi
keluar diam-diam, ia ada meletakan map perceraiannya dengan selembar kertas hvs
A4. Sehun sedang tidur di kamarnya. Ia meminta supirnya untuk mengantarkannya
ke bandara. Awalnya supir itu menolak karena takut di marah oleh Sehun. Tetapi
mau tidak mau ia harus menuruti perintah Seulgi juga.
SKIP
“Penerbangan
menuju Prancis akan lepas landas pada pukul 20.00 KST.”
15 menit
lagi ia akan meninggalkan Seoul.
“Selamat
tinggal kenangan buruk yang aku lalui. Dan sampai bertemu lagi tanah
kelahiranku.” Batin Seulgi sambil berjalan menuju pesawat.
-------------------------------------------Lovely
Nightmare---------------------------------------------------
“ARRRRRGGGGHHHHHHH!!!!!!!!!!!”
Sehun
mengacak-acak rambutnya frustasi melihat map dan secarik kertas yang ada di
depannya.
“Begitu
bodohnya aku mensia-siakan seseorang yang lebih berarti bagiku!!!! AAAAAAHHHH.
Kenapa aku bisa seceroboh ini! Ia bahkan mencoba untuk mencintaimuuu OH
SEHUNNNN!! Apa yang kau lakukannnnn!!!!!” Sehun marah pada dirinya sendiri.
3 Months
Later
“Aku bilang
jauhi aku MINRAA!”
“Kenapa 3
bulan ini kau bersikap seperti ini padaku!”
“Karena aku
ingin menghargai istriku. Aku telah membuat kesalahan yang sangat besar
padanya.”
“Lupakan
saja dia!”
“Kau yang
harus lupakan aku! Jangan dekati aku lagi. Masih banyak pria yang mau denganmu.”
“Aku mau kau
oppaaa!!!!!!!”
Plakkk!
“Kenapa kau
sekasar iniii eoh?!!”
“AKU SUDAH
KATAKAN BERULANG KALI AGAR KAU JAUHI AKUUUU!!!”
“Kau jahat!!
Aku benci padamuuu!!” Minra pun meninggalkan Sehun.
3 bulan ini
tak ada kabar sama sekali dari Seulgi. Sehun mencoba menghubunginya tapi tak
dapat balasan apapun. Sehun mengambil ponselnya.
“Aku pesan
satu tiket ke Prancis hari ini juga.”
“…”
“Baik..”
2 jam lagi
waktu keberangkatan ke Prancis. Sehun pulang dan mengambil kopernya dan
memasukan pakaiannya dengan cepat. Ia pun menaiki mobilnya dengan kecepatan
yang lumayan tinggi. Akhirnya ia sampai di bandara Incheon. Waktu keberangkatan
sisa 30 menit.
“Tunggu aku
Seulgi.” Batin Sehun.
-----
France
“Hey Seulgi,
how are you?”
“I’m fine..”
“What about your
pregnancy?”
“Ahhh it’s
okay. I will become a mother. I’m so glad.”
“Hahaha!!
Okayy. Where is your husband?”
“In Seoul
stephany.”
“Okay see
you~ be careful at you way back to your apartment.”
“Yes, thank
you..”
1 minggu
saat Seulgi tinggal di Prancis, ia mual-mual dan merasa ada yang aneh padanya.
Saat ia check up ke Rumah Sakit ternyata ia hamil. Mau tidak mau ia mengambil
kursus bukan kuliah. 3 bulan ini perutnya sedikit membesar. Ia mengambil kursus
hanya setengah tahun atau 6 bulan. Tapi satu hal yang ia tidak tau, Sehun
datang untuk mencarinya.
----
Sehun
akhirnya sampai Prancis. Ia memesan apartement yang sama dengan Seulgi. Dan
kamar mereka pun bersebelahan. Mungkin Tuhan memiliki rencana untuk menyatukan
mereka. 2 hari mereka tidak pernah berpas-pasan. Sehun mengelilingin kota Paris
yang terkenal dengan menara eiffelnya.
“Ahhhh..”
Teriakan
Seulgi terdengar hingga kamar Sehun. Walaupun kedap tetapi teriakan Seulgi
masih bisa terdengar.
“Seperti
suara Seulgi.”
Tok tok
tokk..
Tak ada
jawaban sama sekali. Sehun memikirkan kesukaan Seulgi. Pertama ia coba dengan
namanya dan ternyata pintunya terbuka. Oh sungguh sebuah keajaiban. Sehun
berlari menuju kamar tidur. Ia melihat Seulgi sedang memegang perutnya. Dan
perutnya yang sedikit besar membuat Sehun sedikit heran.
“SEEUULLGGGII.
Kau kenapa??”
“Kee..nnaa..ppaa
kaa..uu aadddaa ddiii…ssiii..nniii??”
“Nanti saja
aku jelaskan. Kita ke Rumah Sakit terlebih dahulu.”
“AAAhhh..”
Sehun
menggopong Seulgi hingga keluar apartement dan mencari taksi. Setelah itu ia
membawa Seulgi ke rumah sakit. Setelah menunggu 15 menit akhirnya dokter pun
keluar.
“Doctor, how
is her condition?”
“This is her
first time.”
“What??”
“She’s
pregnant.”
“Ahh yess..
Thank you..”
“She just
need enough rest.. See you.” (bad English)
---
Sehun masuk
ke ruangan inap Seulgi.
“Seulgi
mianhaaee jeongmal miaannhaaeee..”
“Sudahlah,
lupakan. Kau sudah tanda tangan surat cerai kita?”
“Aku tidak
mau menceraikanmu dan aku tak mau kau menjadi single parent.”
“Taaapp..”
Chu~~~~~~~~~~~~~~
Seulgi
sedikit tersenyum.
“Aku harap
kau mau kembali.”
“Aku
memaafkan mu dan aku akan kembali dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Kau janji
tidak akan mengulangi kesalahanmu untuk kedua kalinya.”
“Aku sangat
berjanji..”
“Dan sebelum
kita pulang aku ingin ke menara Eiffel.”
“Baiklahhh
kita akan kesana setelah kau keluar dari rumah sakitttt..”
“Yeaaayyyy!!!!”
Tumben
Seulgi tersenyum bahagia seperti ini di saat ia bersama Sehun. Sehun merasa
hangat saat ia melihat Seulgi tersenyum. Baru pertama kali ini Sehun merasakan
perasaan se-hangat dan se-bahagia ini. Mungkin Tuhan merencanakan semua ini
untuk kebahagian mereka.
At Eiffel~
“AAAAAAA~
Oppaaaaaaa!!!!!! Aku senang sekali…”
“Tumben kau
mau memanggil aku dengan sebutan oppa??”
“Eeeennggg????”
Seulgi seketika salah tingkah.
“Haha…
Sudahlah kau nikmati saja besok kita sudah balik.”
“Apakah
secepat itu??”
“Iya, kau
sedang hamil seperti ini bagaimana bisa berlama-lama.”
“Tapi apa
kau dan Minra sudah tidak bersama lagi?”
“Aku yakin.
Aku akan menjadi suami yang baik bagimu dan anak kita.”
----------------------------------------5
years later------------------------------------------
“EOOOOMMMAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!”
“Wae
sayang??”
“Eomma, apa
eoddiga?”
“Appa?
Hmmm.. Appa lagi mandi..”
“Padahal
Seulla(Seulra) mau minta appa ajalin Seulla nge-dance…”
“Besok saja
yaa sayang..”
“Baik eomma
Seulla yang cantiikkk..”
Seorang
perempuan kecil telah lahir melengkapi keluarga nan sempurna ini. Apalagi
Seulgi sedang hamil anak kedua nya lagi. Terkadang sesuatu yang menjadi mimpi
buruk kita selama ini, akan terhapuskan oleh masa terindah kita yang tak pernah
terlupakan. Masa lalu itu perlahan akan terhapuskan oleh keluarga kecil ini.
_END_
Subscribe to:
Posts (Atom)



